Lembaga Pendidikan Islam Bukan Teroris

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Jumat, 19 Oktober 2012, 22:41 WIB
Lembaga Pendidikan Islam Bukan Teroris
abdul mu'thi/ist
rmol news logo Label teroris yang kerap dilekatkan pada pesantren mengakibatkan lembaga pendidikan Islam di Indonesia semakin terpojok dan dipandang sebagai lembaga monolitik, yang memiliki sistem pengajaran yang sama seperti lembaga pendidikan Islam di negara-negara fundamentalis.

"Madrasah itu tidak monolitik, karena banyak varian didalamnya. Bukan fisik lembaganya (yang teroris), tapi apa yang ada didalam lembaga itu (individu yang ingin menjadi teroris)," kata Sekretaris Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'thi, dalam acara bedah buku "Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad 20: Pergumulan Antara Modernisasi dan identitas" di Hotel Millennium, Tanah Abang, Jakarta, Jumat (19/10).

Menurut dia buku setebal 386 halaman ini merupakan jawaban atas judgement pesantren yang dilayangkan oleh negara Barat.

Isi buku mengkritik persepsi Barat yang memandang madrasah sebagai lembaga monolitik. Persepsi ini, lanjut Mukti, dapat menyebabkan generalisasi yang menyesatkan, bila dikaitkan dengan opini bahwa madrasah sebagai tempat dimana nilai-nilai radikalisme dan terorisme disemaikan.

Selain itu, buku  karya Arief Subhan ini juga menyajikan dinamika lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang harus bergulat dan bernegosiasi dengan modernitas sembari mempertahankan identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam yang menjadi tempat penyemaian ideologi keislaman. [dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA