Harga emas tergelincir ke bawah level psikologis 4.700 Dolar AS per ons pada perdagangan Asia, Senin 27 April 2026, memperpanjang tren negatif dari pekan lalu.
Ironisnya, di saat ketegangan geopolitik biasanya menjadi bahan bakar bagi emas sebagai aset aman (safe haven), kali ini sang logam mulia justru tertekan oleh ekspektasi suku bunga yang kian agresif.
Harapan akan redanya konflik AS–Iran memudar setelah upaya negosiasi perdamaian menemui jalan buntu. Langkah diplomasi yang sedianya dilakukan di Islamabad berantakan setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan kunjungan utusan seniornya.
Di sisi lain, Teheran tetap pada pendirian kerasnya: tidak akan ada pembicaraan selama ancaman militer dan blokade ekonomi masih berlangsung. Penutupan efektif Selat Hormuz—jalur nadi energi dunia—kini memasuki fase kritis yang memicu kekhawatiran inflasi global tak terkendali.
Sementara emas meredup, pasar minyak justru membara. Konflik Timur Tengah yang kini memasuki minggu kesembilan telah menciptakan disrupsi masif.
Badan Energi Internasional (IEA) bahkan melabeli situasi ini sebagai "guncangan pasokan energi terbesar yang pernah ada."
Melonjaknya harga energi menjadi pisau bermata dua bagi emas. Daat harga minyak mahal, biaya segalanya—mulai dari ongkos angkut barang sampai listrik—ikut naik. Inilah yang disebut inflasi. Biasanya, emas dicari saat inflasi tinggi karena nilainya dianggap aman.
Untuk melawan inflasi yang menggila itu, bank sentral harus bertindak tegas dengan mempertahankan suku bunga tetap tinggi dalam waktu lama.
Fokus investor kini tertuju pada kebijakan Federal Reserve AS. Di bawah kepemimpinan Ketua yang baru, Kevin Warsh, pasar berekspektasi bahwa The Fed akan bergerak sangat hati-hati.
Sebagai tokoh yang dikenal memiliki pandangan hawkish (cenderung mendukung suku bunga tinggi untuk menekan inflasi), Warsh diperkirakan hanya akan melakukan pemotongan suku bunga secara bertahap dan terbatas.
Bagi emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset), kebijakan ini adalah sentimen negatif karena meningkatkan opportunity cost bagi para pemegang logam mulia.
Secara tradisional, emas naik saat perang. Namun, dalam konteks April 2026 ini, terdapat anomali yang disebabkan oleh keperkasaan Dolar AS (DXY), likuidasi aset, serta status pasar.
BERITA TERKAIT: