Salah satu yang mengenang sosok almarhum adalah Kapten Inf Sudargo Guntoro, rekan satu angkatan lulusan Akmil 2015. Ia menuturkan, sejak masa pendidikan Zulmi dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan religius.
“Selama almarhum bersama kami, orangnya
humble dan ibadahnya juga kuat,” ujar Sudargo dikutip dari Kantor Berita RMOLJabar, Minggu, 5 April 2026.
Di mata rekan-rekannya, Zulmi bukan hanya sosok bersahaja, tetapi juga prajurit yang dapat diandalkan dalam setiap penugasan.
“Kalau soal tugas, setiap diberi perintah pasti selalu berhasil. Itu yang kami rasakan saat sama-sama penugasan di Papua,” katanya.
Pengalaman operasi di wilayah konflik, khususnya Papua, disebut menjadi bagian penting yang membentuk karakter dan profesionalisme almarhum. Zulmi bahkan kerap dipercaya menjalankan misi-misi krusial, termasuk operasi evakuasi di daerah berisiko tinggi.
“Beliau sering terlibat evakuasi sebagai pasukan gerak cepat. Karena itu sering ditunjuk dalam misi-misi penting,” ungkapnya.
Kedekatan mereka tidak hanya terjalin saat menjalani pendidikan di Akmil, tetapi juga berlanjut dalam berbagai kegiatan organisasi hingga pendidikan lanjutan.
Meski demikian, Sudargo mengaku tidak sempat berkomunikasi terakhir dengan almarhum sebelum kabar duka datang. Kenangan kebersamaan, termasuk saat mengikuti pendidikan lanjutan pada 2023, masih membekas kuat.
“Di Akmil satu organisasi, di pendidikan lanjutan juga sempat bersama,” kenangnya.
Kepergian Mayor Zulmi menjadi kehilangan besar bagi keluarga besar alumni Akmil 2015. Solidaritas yang terbangun selama bertahun-tahun membuat duka terasa semakin mendalam.
Sudargo berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, sementara para rekan seangkatan tetap saling menguatkan.
“Semoga keluarga diberi ketabahan dan teman-teman tetap solid,” tutupnya.
BERITA TERKAIT: