KOI Peringatkan Indonesia Bisa Kena Sanksi FIFA

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Kamis, 30 April 2015, 09:30 WIB
rmol news logo Komite Olimpiade Indonesia (KOI) berharap polemik persepakbolaan nasional segera tuntas. Pasalnya jika ada dualisme lagi, sepak bola Indonesia akan disanksi FIFA.

Andai sanksi FIFA benar-benar dijatuhkan, maka akan berpengaruh buruk pada Indonesia. Timnas Indonesia terancam tidak ikut SEA Games 2015 bahkan saat Jakarta-Palembang jadi tuan rumah Asian Games 2018.

"Ikut SEA Games dan menjadi tuan rumah Asian Games harus dijadikan momen untuk kebangkitan olahraga Indonesia. Untuk itu harus mengurangi hal-hal yang menghambat penyelenggaraannya," kata Ketua KOI Rita Subowo di Jakarta, Rabu malam (29/4).

Rita mengkhawatirkan jatuhnya sanksi FIFA, apalagi federasi sepak bola dunia itu telah memberikan teguran terakhir 30 Mei 2011. Saat itu di sepak bola ada dualisme organisasi, PSSI dan KPSI, sedang di kompetisinya ada ISL dan IPL. Dalam surat teguran pun dituliskan, jika kembali ada dualisme di Indonesia, sanksi benar-benar akan dijatuhkan.

"Bayangkan jika sanksi benar-benar jatuh. Kita tidak bisa memainkan sepak bola saat menjadi tuan rumah Asian Games. Makanya kami meminta pemerintah dan PSSI segera menuntaskan permasalahan yang ada," kata dia.

Rita  meminta pemerintah dan PSSI kembali berdialog dengan tujuan meningkatkan kualitas persepakbolaan nasional dan meminta PSSI untuk introspeksi diri serta membenahi tatanan organisasi dan prestasi. KOI  telah berdialog dengan pemerintah yang antara lain menelurkan penyataan bahwa persoalan liga harus segera diselesaikan sehingga kompetisi bisa kembali digulirkan.

"Selain itu meminta kepada pemerintah untuk memberikan peringatan pada PSSI untuk segera menyelesaikan persoalan liga serta kami meminta pemerintah memberikan kepercayaan kepada PSSI untuk bekerja menyelesaikan persoalan seperti yang diharapkan pemerintah dan masyarakat," kata Ketua Umum KONI Pusat 2007-2011 itu.

Polemik antara PSSI dengan pemerintah memang terus bergulir termasuk dalam hal pengakuan kepengurusan dibawah pimpinan La Nyalla Mattalitti, padahal kepengurusan periode 2015-2019 sudah mendapatkan legalitas dari AFC dan FIFA.

Kemenpora kukuh pada keputusan tidak mengakui kepengurusan tersebut karena masih bermasalahnya soal legalitas Arema Cronus dan Persebaya Surabaya. Akibatnya, Indonesia Super League (ISL) kembali dihentikan karena hanya 16 klub yang mendapatkan rekomendasi.[wid]
Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA