Kemenangan ini menegaskan status LavAni sebagai tim tak terkalahkan sepanjang babak empat besar. Dua pekan lalu, mereka juga menjuarai putaran pertama. Gelar putaran kedua berhadiah uang pembinaan Rp60 juta.
LavAni langsung menurunkan komposisi terbaik sejak awal. Dio Zulfikri mengatur serangan, Hendra Kurniawan mengawal tengah, ditopang trio Boy Arnes, Taylor Sander, dan Georg Grozer. Tekanan datang sejak peluit pertama.
Bhayangkara yang dikomandoi Nizar Zulfikar mencoba mengimbangi lewat Rendy Tamamilang dan Bardia Saadat. Namun pertahanan LavAni terlalu rapat. Boy Arnes dkk menutup set pertama 25-20.
Di set kedua, Bhayangkara mengubah strategi untuk meredam gempuran lawan. Upaya itu tak berhasil. Konsistensi LavAni justru meningkat. Grozer dan Sander berulang kali menembus blok dengan spike keras. Set berjalan berat sebelah, 25-15 untuk LavAni.
Tertinggal dua set, Bhayangkara tak menyerah. Rendy Tamamilang, Agil Angga, dan Martin Atanasov menemukan celah. Koordinasi serangan Bhayangkara lebih rapi, sementara LavAni kehilangan momentum. Set ketiga milik Bhayangkara 18-25. Skor mengecil 2-1.
Set keempat berlangsung dramatis. Kedua tim kejar-kejaran angka. LavAni tak mau laga berlanjut ke set kelima. Serangan diintensifkan. Blok Hendra Kurniawan dan penyelesaian dingin Boy Arnes mengunci set 25-22.
Hasil ini membawa LavAni ke Grand Final dengan kepercayaan diri tinggi, meski tim pelatih belum puas.
“Pemain kami masih kedodoran menerima servis pemain asing Bhayangkara. Maunya, sekali terima servis langsung balas serangan dan bola mati di pihak lawan,” kata Asisten pelatih LavAni Erwin Rusni, dikutip dari
RMOLJateng.
Di kubu Bhayangkara, pelatih Reidel Alfonso Gonzalez Toiran merespons dengan kepala dingin. Menurutnya, kekuatan tim baru 60 persen. Evaluasi utama ada pada komunikasi dan koordinasi lapangan yang masih sering salah.
“Ini bagian dari proses menuju puncak performa,” kata Toiran.
BERITA TERKAIT: