“Pak Sule kemana?” Pertanyaan sederhana ini seringkali muncul ketika Sulaiman Sulang (42) yang akrab dipanggil Sule tidak bertugas lagi, sehingga para siswa segera menyadari dan mencarinya.
Bagi Sule, momen-momen kecil tersebut menjadi alasan yang membuatnya betah menjadi Wali Asuh di Sekolah Rakyat.
“Jadi kalau ketika anak-anak, saya dua hari libur gitu ya, atau ada dinas kemana, itu anak-anak mencari, Pak Sule kemana? Kok tidak kelihatan?,” katanya, ditemui beberapa waktu lalu, di Malang, Jawa Timur, dikutip melalui keterangan tertulis Kementerian Sosial (Kemensos), Jumat, 28 Agustus 2026.
Di Sekolah Rakyat, ada kehangatan yang tidak Sulaiman temukan dengan cara yang sama, selama 15 tahun mengabdi sebagai staf tata usaha di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri.
Selama belasan tahun, Sule terbiasa berhadapan dengan para siswa, khususnya usia remaja. Ia yang banyak menangani berbagai kegiatan yang melibatkan peserta didik, memandang karakter anak-anak di sekolah umum berbeda dengan di Sekolah Rakyat.
“Ketika saya masuk di Sekolah Rakyat, karena background saya 15 tahun di SMK Negeri, berbeda ya, dengan usia (siswa) yang sama,“ tuturnya.
Sule tidak pernah menyangka keputusannya untuk mengabdikan diri di Sekolah Rakyat membawanya pada pengalaman yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.
Sekolah Rakyat Tempat Mendapat PahalaSatu bulan pertama saat bertugas sebagai Wali Asuh, Sule banyak mengamati bagaimana mendampingi anak-anak dengan latar belakang yang beragam dari keluarga yang paling tidak mampu pada Desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Rata-rata input siswa kami yang dari Sekolah Rakyat itu memang berasal dari Desil 1 dan 2, artinya rata-rata anak kami itu ada yang sudah putus sekolah,” ungkapnya.
Sule melihat mereka bukan sekadar anak-anak yang membutuhkan ruang kelas untuk belajar. Namun, mereka yang membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, mengingatkan, dan menemani.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, mendampingi siswa Sekolah Rakyat tidak cukup hanya dengan aturan. Sule meyakini bekerja harus menggunakan hati dan keikhlasan.
“Sekolah Rakyat itu sungguh luar biasa, karena di situ saya belajar masuk surga. Karena di situ, kita mengajarin anak-anak yang memang tidak mampu. Anak-anak yang sudah tidak ada orang tuanya. Anak-anak yang tinggal sama mbah-nya saja. Anak-anak yang hidupnya sebatang kara,” ucapnya.
Menurutnya, ada tiga hal yang menjadi komitmen seorang Wali Asuh dalam mendampingi anak-anak di Sekolah Rakyat, yakni waktu, tenaga, dan pikiran.
“Waktu, kita bimbing mereka, dampingi mereka. Tenaga, ayo kita membantu mereka, kerja bakti, membantu mereka. Pikiran, ide-ide apa yang kita punya, kita transfer ke mereka,” jelasnya.
Sule memandang tugasnya bukan sekadar pekerjaan. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk memberikan sesuatu kepada anak-anak yang mengingatkan pada dirinya di masa lalu.
Anak Petani, Kini Sukses Tulis Puluhan Judul Buku
Sule lahir dari keluarga sederhana, karena orang tuanya bekerja sebagai petani. Pria yang berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur ini mengetahui betul bagaimana rasanya tumbuh dalam keterbatasan, bagaimana pendidikan menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
“Saya lahir dari keluarga yang enggak mampu, dan bisa sukses, mereka juga harus lebih, mereka harus lebih sukses daripada saya,” pesan Sule pada siswa Sekolah Rakyat.
Lebih jauh, Sule bercerita bahwa dia merantau ke Malang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Perjalanannya selama kuliah tidaklah mudah, dia tinggal menumpang di rumah bibinya dan rela bekerja untuk biaya makan sehari-hari.
“Tapi saya enggak full murni tinggal di bibi saya. Saya sore itu pasti ke rumahnya dosen. Di situ saya membantu cuci piring, siram tanaman setiap sore hari, nyapu halaman. Itu hanya untuk bisa buat makan. Itu saya lakukan hampir 4 tahun,” ungkapnya.
Selama berada di rumah salah satu dosen tersebut, Sule belajar banyak hal, salah satunya dia banyak membaca buku dan menulis. Ketika selesai kuliah, Sule aktif menjadi penulis buku dan sempat mendapatkan penghargaan di tingkat Provinsi Jawa Timur.
“Ketika saya lulus dari kuliah, saya bekerja, saya sampai menulis 44 judul buku, dan terbitan semuanya ISBN. Baru-baru 2025 kemarin, saya dapat penghargaan dari Ibu Gubernur Jawa Timur, sebagai penulis buku terbanyak di Jawa Timur,” ungkapnya.
Di samping menulis buku, Sule juga aktif pada kegiatan konservasi lingkungan melalui inovasi pengolahan limbah sampah. Dia bahkan sempat diundang ke luar negeri untuk memperkenalkan inovasinya.
“Saya selalu ikut pelatihan pengolahan sampah, konservasi. Akhirnya, oleh beberapa NGO dari luar negeri itu mengundang saya ke Malaysia, ke beberapa negara, ke beberapa provinsi,” ujarnya.
Dia berharap pengalaman dalam menulis dan konservasi lingkungan bisa dibagi kepada para siswa Sekolah Rakyat. Baginya, tidak ada yang tidak mungkin dengan kemauan dan niat yang kuat.
“Saya selalu menyampaikan, ini lah anak petani. Bisa menulis buku sebanyak itu, bisa keliling Indonesia, bisa diundang di beberapa negara. Tanpa uang, tanpa ngeluarin duit. Nah itu motivasi-motivasi yang saya sampaikan ke mereka bahwa jangan mudah putus asa karena kita orang nggak punya,” demikian Sule menambahkan.
BERITA TERKAIT: