Di tengah kesedihan keluarga, terkuak dugaan indikasi pelanggaran prosedur keselamatan. Sejumlah penumpang diduga berlayar tanpa terdaftar dalam manifes resmi kapal jenis Ro-Ro milik PT Atosim Lampung Pelayaran tersebut.
Salah seorang warga Gresik, Devi, mengaku bergegas menuju pelabuhan usai mendapat kabar suaminya, Deni Vristiawan (39), yang berlayar bersama lima rekannya rute Tanjung Perak–Makassar menjadi korban dalam musibah itu.
"Saya baru mendapat kabar dari
live TikTok," kata Devi di lokasi Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Minggu, 2 Agustus 2026.
Kepanikan senada dirasakan Samparia, warga asal Makassar, yang namanya juga dikabarkan tidak tercantum dalam manifes resmi.
Sementara itu, Susilo, seorang pemilik perusahaan ekspedisi di Pelabuhan Tanjung Perak, juga terus bertahan di lokasi demi menunggu kepastian nasib lima karyawannya yang mengawal muatan ternak.
"Dari pegawai yang mengirim kuda dan kambing, empat orang sudah dinyatakan selamat. Satu orang lagi belum diketahui keberadaannya," beber Susilo.
Berdasarkan data Basarnas, total korban dalam tragedi ini mencapai 232 orang. Sebanyak 227 korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, sementara 5 orang dilaporkan meninggal dunia.
Proses evakuasi dan penjemputan dilakukan secara bertahap oleh sejumlah kapal perbantuan di tengah laut. Kapal Meratus mengangkut 109 korban selamat dan 2 jenazah.
Selain itu, TB Hasnur menampung 26 korban selamat dan 1 meninggal dunia, Kapal Meratus Projek mengevakuasi 13 korban selamat dan 1 meninggal dunia, serta Kapal Alcon Daniel mengangkut 1 jenazah.
Guna mengantisipasi kedatangan para korban di Tanjung Perak, otoritas terkait telah menyiagakan lima unit mobil jenazah serta menunjuk RS PHC Surabaya sebagai rumah sakit rujukan utama penanganan medis.
BERITA TERKAIT: