Semangat inilah yang menurut Wakil Menteri Agama (Wemenag) Romo H.R. Muhammad Syafi'i perlu dihidupkan kembali.
Dalam sambutannya pada rangkaian kegiatan Muharram Islamic Literacy Festival (Milfest) 1448 H di Unit Percetakan Al-Quran, Bogor, Jawa Barat, Kamis 30 Juli 2026, Romo Syafi'i menegaskan bahwa bagi umat Islam sumber ilmu sesungguhnya telah jelas.
"Bagi kita sumber ilmu itu kan sudah final. Dari Allah, dari Rasulullah," ujarnya.
Namun, ia menilai, perkembangan ilmu yang semakin terspesialisasi sering kali membuat masyarakat memandang ilmu agama dan ilmu pengetahuan sebagai dua hal yang terpisah.
"Ketika memahami sumber ilmu itu dalam pandangan yang dikemas oleh dunia yang penuh dengan spesialisasi ini, maka itu kemudian arahnya cuma fikih, ibadah, tauhid, tarikh, dan lain sebagainya," katanya.
Padahal, jika menengok sejarah, para ilmuwan Muslim justru menunjukkan wajah keilmuan yang utuh. Wamenag kemudian mencontohkan tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Khaldun dan Ar-Razi yang dikenal dunia sebagai ilmuwan, tetapi pada saat yang sama memiliki fondasi keagamaan yang sangat kuat.
"Kalau mereka ilmuwan dalam konteks agama itu benar, karena sesungguhnya literasi mereka itu adalah Quran. Literasi mereka adalah sunnah. Literasi mereka adalah alam semesta yang terbentang di hadapan mereka," katanya.
Pernyataan tersebut mengandung pesan bahwa tradisi intelektual Islam dibangun di atas tiga ruang pembelajaran sekaligus, yakni wahyu Allah, teladan Rasulullah SAW, dan alam semesta yang terus mengundang manusia untuk berpikir dan meneliti.
Cara pandang seperti itulah yang melahirkan para cendekiawan besar yang mampu memberikan sumbangan bagi perkembangan kedokteran, astronomi, matematika, filsafat, hingga ilmu sosial, tanpa pernah memisahkan antara keimanan dan keilmuan.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, pesan Romo Syafi'i menjadi pengingat bahwa kebangkitan umat tidak cukup hanya dengan memperkuat ritual keagamaan. Budaya literasi, tradisi riset, dan semangat mengembangkan ilmu pengetahuan juga harus menjadi bagian dari gerakan bersama.
Sebab, ketika Al-Quran, Sunnah, dan alam, dibaca sebagai satu kesatuan, di sanalah peradaban Islam menemukan kekuatan dan relevansinya sepanjang zaman.
BERITA TERKAIT: