Di saat debit Sungai Brukah meluap, warga justru berbondong-bondong membawa anco, mengubah duka banjir menjadi pundi-pundi rupiah melalui ikan endemik yang kini diburu hingga luar kota.
Luapan air Sungai Brukah memang mengganggu aktivitas pertanian, namun ada berkah musiman yang dinanti yakni melimpahnya ikan endemik dengan cita rasa khas.
Ketika genangan meluas ke tepi dan lahan persawahan, saat itulah kehidupan lain bermunculan. Ikan-ikan kecil dari aliran sungai berkumpul di pinggiran. Sebuah peluang panen hasil alam lainnya dengan cara tradisional.
Menurut Salim, salah satu warga desa Sikumpul, biasanya menjelang sore tiap usai hujan reda, suasana di tepian Sungai Brukah berubah ramai. Puluhan warga tampak menenteng alat sederhana bernama anco.
“Itu jaring yang dikatrol dengan rangka kayu untuk menangkap ikan yang bergerombol di arus tenang. Ini udah turun temurun kami jalani. Bagi kami, musim hujan justru musim panen ikan,” kata Salim dikutip
Kantor Berita RMOLJateng, Sabtu malam, 4 April 2026.
Salim tak berhenti sebagai penangkap ikan, ia juga mengembangkan kemampuannya dengan menjadi pengepul bagi tangkapan warga lain.
Ditambahkan bahwa hasil tangkapan bukan hanya satu dua jenis saja. Beragam jenis ikan endemik yang dipanen. Ikan gondok, bokol, golsom, dan wader adalah contoh ikan yang muncul saat banjir itu. Ukuran ikan itu termasuk kecil. Hanya sebesar ibu jari orang dewasa. Namun soal rasa, ikan-ikan ini justru memiliki keunggulan tersendiri gurih dan renyah.
“Ikan dari sini rasanya beda. Lebih gurih. Banyak pembeli dari luar daerah datang langsung ke sini. Para pencari ikan sudah punya pelanggan sendiri. Sehingga saat mereka dapat ikan, mereka akan menawarkan pada pelanggannya,” jelas Salim.
Harga ikan hasil nganco juga menjanjikan. Dalam kondisi mentah, ikan dijual sekitar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Setelah diolah, nilainya bisa melonjak hingga Rp80 ribu sampai Rp100 ribu per kilogram, tergantung jenis masakan.
"Selain ditawarkan pada pelanggan, permintaan warga lokal juga ramai sehingga selalu laris," katanya.
Warjito, warga lainnya bercerita bahwa tradisi nganco bukan sekadar aktivitas ekonomi. Ia menyebut sebagai kearifan lokal yang dijaga bersama. Metode ini sangat ramah lingkungan karena selektif hanya ikan berukuran layak konsumsi yang diambil, sementara yang kecil dilepas kembali.
“Pemancing dan penganco tidak saling berebut. Kami sudah paham wilayah dan caranya masing-masing,” katanya.
Warga juga sepakat menjaga kelestarian sungai dengan melarang praktik penangkapan ikan menggunakan setrum atau racun. Aturan itu ditegakkan secara kolektif dan disepakati bersama demi menjaga ekosistem tetap lestari.
"Dibalik bencana selalu ada berkahnya. Selain ikan, areal persawahan juga akan aman dari tikus setelah banjir," katanya.
Fenomena ikan musiman di Sungai Brukah menjadi bukti bahwa alam selalu memiliki cara untuk menyeimbangkan diri. Sikap warga Kalibening ini linear dengan pemikiran Lao Tzu tentang Wu Wei, yakni bertindak mengikuti alur alam.
BERITA TERKAIT: