"Dosen-dosen asing itu nantinya akan membantu dosÂen-dosen kita dalam hal peÂnelitian. Bagaimana cara bikin proposal, cara menulis, hingga melakukan penelitian berÂsama," ujar Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (KemÂristekdikti), Ali Ghufron Mukti, di Jakarta, Kamis (19/4).
Ia menambahkan, dosen-dosen asing tersebut nantinya akan membagikan pengetahuÂan bagaimana mengerjakan proposal, kemudian melakuÂkan penelitian yang berkuaÂlitas, hingga menemukan hal-hal yang baru. "Nantinya, para dosen yang berkualifikasi dan berkelas internasional itu, kita harapkan bisa berkolaborasi mengangkat penelitian kita serta meningkatkan produkÂtivitas terutama di kinerja perÂguruan tinggi," Katanya.
Ali Ghufron Mukti mengatakan, para dosen tersebut akan menerima gaji antara 3.000 hingga 5.000 USD atau setara Rp 39 juta-Rp 65 juta (kurs Rp13.000).
"Nanti akomodasi kami siapkan juga. Surat perizinan dan lain-lain juga mengikuti," tutur Ghufron.
Menurutnya, nominal gaji tersebut sudah sesuai dengan standar yang ada. Ia yakin hal tersebut tidak akan menimbulkan kecemburuan dengan dosen-dosen di Tanah Air.
"Angka segitu sudah umum ya," tuturnya.
Ali Ghufron Mukti menuturkan, pada tahun 2017, sebanyak 84 dosen sudah mengajar di Indonesia. Mayoritas mereka tertarik mengajar dan melakukan penelitian di Indonesia karena sumber daya alam Indonesia yang kaya.
Ia optimistik para dosen asing mau mengajar di Indonesia. Sementara kualifikasi dosen asing yang akan mengajar di Tanah Air tentu harus familiar dan memiliki karya publikasi ilmiah serta berasal dari 100 kampus top dunia.
"Tugas mereka adalah mentransfer ilmu pengetahuan dan membangun iklim akademik penelitian di Indonesia tumbuh sebab penulisan publikasi ilmiah kita masih rendah. Diharapkan para dosen asing tersebut dapat membantu," tuturnya.
[rry]
BERITA TERKAIT: