Pernyataan ini dinilai bukan sekadar respons normatif, melainkan sinyal kuat adanya perombakan dalam tubuh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam waktu dekat.
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah melihat pernyataan tersebut sebagai bagian dari komunikasi politik yang terukur. Dalam analisisnya, reshuffle bukan hanya soal evaluasi kinerja, tetapi juga langkah strategis untuk menata ulang peta loyalitas di lingkaran kekuasaan.
“Pernyataan ‘tunggu saja’ itu bukan spontan. Itu sinyal bahwa proses evaluasi sudah selesai atau hampir selesai. Presiden tinggal mengeksekusi,” kata Amir, dikutip Rabu 8 April 2026.
Amir menyoroti adanya fenomena yang disebutnya sebagai “matahari kembar” dalam Kabinet Merah Putih.
Istilah ini merujuk pada kondisi di mana sejumlah menteri tidak sepenuhnya loyal kepada satu pusat kekuasaan, melainkan memiliki kedekatan politik ganda -- baik kepada Presiden Prabowo maupun kepada Presiden sebelumnya, Joko Widodo (Jokowi).
Menurutnya, situasi ini berbahaya dalam konteks stabilitas pemerintahan.
“Dalam perspektif intelijen, loyalitas yang terbelah itu adalah kerentanan. Ini bisa menghambat pengambilan keputusan strategis dan membuka ruang tarik-menarik kepentingan di dalam kabinet,” kata Amir.
BERITA TERKAIT: