BNPB: Kekeringan Di Jawa, Bali, Dan Nusa Tenggara Terjadi Sejak 1995

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Selasa, 12 September 2017, 20:03 WIB
BNPB: Kekeringan Di Jawa, Bali, Dan Nusa Tenggara Terjadi Sejak 1995
Sutopo Purwo Nugroho/Net
rmol news logo Kekeringan di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara bukan sesuatu hal yang baru.

Kepala Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mencatat bahwa lebih dari 3,9 juta jiwa masyarakat yang bermukim 2.726 desa di 715 kecamatan dan 105 kabupaten/kota di Jawa dan Nusa Tenggara telah mengalami kekeringan setiap tahunnya.

Secara nasional, ketersediaan air masih mencukupi, bahkan sampai dengan proyeksi tahun 2020 ketersediaan air masih mencukupi untuk pemenuhan seluruh kebutuhan air, seperti untuk kebutuhan rumah tangga, perkotaan, irigasi, industri dan lainnya.

"Namun secara per pulau, ketersediaan air yang ada sudah tidak mencukupi seluruh kebutuhan khususnya di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Selasa (12/9).

Studi neraca air yang dilakukan Kementerian PU pada tahun 1995 menunjukkan bahwa, surplus air hanya terjadi pada musim hujan dengan durasi sekitar 5 bulan. Sedangkan pada musim kemarau telah terjadi defisit untuk selama 7 bulan.

"Artinya ketersediaan air sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan air bagi penduduk di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara," terangnya.

Hasil penelitian lain mengenai neraca air pada tahun 2003, juga menunjukkan hasil yang sama. Dari total kebutuhan air di Pulau Jawa dan Bali sebesar 83,4 miliar meter kubik pada musim kemarau, hanya dapat dipenuhi sekitar 25,3 miliar kubik atau hanya sekitar 66 persen.

"Studi yang dilakukan Bappenas pada tahun 2007 juga menunjukkan hasil bahwa ketersediaan air yang ada sudah tidak mencukupi seluruh kebutuhan pada musim kemarau di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara," sambung Sutopo

Menurutnya, krisis air akan semakin meningkat seiring jumlah penduduk yang juga meningkat. Ironisnya kerusakan daerah aliran sungai, degradasi lingkungan, makin berkurangnya kawasan resapan air, tingginya tingkat pencemaran air, rendahnya budaya sadar lingkungan dan masalah lainnya juga menyebabkan pasokan air makin berkurang.

"Daya dukung lahan telah terlampaui sehingga pengelolaan sumber daya air menjadi lebih rumit. Inilah yang menyebabkan kekeringan selalu berulang setiap tahun," jelasnya. [ian]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA