Pengamatan yang dilakukan BNPB melalui satelit Aqua, Terra, SNNP pada catalog modis LAPAN tersebut mengungkapkan bahwa sebaran titik panas terbanyak terjadi di Papua.
Adapun sebaran rincian tersebut adalah Papua sebanyak 93 hotspot, Jawa Timur 17 hotspot, Sulteng 1 hotspot, Kaltim 1 hotspot, Kalsel 1 hotspot, Kalteng 3 hotspot, Jabar 3 hotspot, Jateng 2 hotspot, NTT 13 hotspot, dan NTB 11 hotspot. Kemudian di Kaltara sebanyak 3 hotspot, Sulsel 1 hotspot, Sumbar 3 hotspot, Riau 1 hotspot, Bengkulu 1 hotspot, Aceh 1 hotspot, Sumsel 2 hotspot, dan Sumut 1 hotspot.
"Jumlah hotspot yang melonjak bertambah adalah di Papua yaitu dari 7 hotspot pada Minggu (6/8) meningkat menjadi 93 hotspot pada Senin (7/8). Hotspot ini terpusat di Kabupaten Merauke dengan 92 hotspot dan Mamberamo Tengah 1 hotspot," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kepada redaksi.
Dijelaskan Sutopo bahwa peningkatan jumlah hotspot itu tidak terlepas dari pembukaan perkebunan yang besar-besaran di Papua. Terlebih, jenis tanah yang terbakar adalah tanah gambut dan mineral.
"Berdasarkan pantauan citra satelit, perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi perkebunan berlangsung cukup cepat dan luas di Papua. Aktivitas ini disertai dengan peningkatan kebakaran hutan dan lahan dalam pembersihan lahan," jelasnya.
Kebakaran hutan dan lahan di Papua paling banyak terjadi di Kabupaten Merauke dan Mappi. Sementara upaya pemadaman terhambat karena karena lokasi kebakaran berada pada daerah-daerah yang sulit dijangkau.
"Termasuk terbatasnya sarana prasarana dan personil untuk memadamkan api serta belum adanya BPBD Merauke," pungkasnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: