Di tengah meningkatnya biaya layanan kesehatan, satu kali tindakan medis dapat menghabiskan tabungan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun dan mengganggu berbagai rencana keuangan keluarga.
Pengalaman Joko Mulyono, seorang pekerja kantoran di Jakarta, menjadi salah satu gambaran mengenai besarnya dampak ekonomi yang dapat ditimbulkan oleh risiko kesehatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia harus menjalani sejumlah tindakan medis, mulai dari operasi punggung, kolonoskopi, hingga prosedur penanganan gangguan pembuluh darah. Jika diakumulasikan, total biaya perawatan yang dibutuhkan mencapai lebih dari Rp200 juta.
Bagi banyak keluarga kelas menengah, angka tersebut bukanlah jumlah yang kecil. Pengeluaran medis dalam jumlah besar berpotensi menguras dana darurat, tabungan pendidikan anak, hingga investasi yang telah dipersiapkan untuk masa depan.
Joko mengaku tidak pernah membayangkan harus menghadapi serangkaian tindakan medis dengan nilai mencapai ratusan juta rupiah. Pengalamannya menjadi pengingat bahwa risiko kesehatan dapat datang tanpa peringatan dan sulit diprediksi.
Fenomena ini semakin relevan di tengah tren kenaikan biaya kesehatan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
"Alhamdulillah, ikhtiar saya mempercayakan proteksi kesehatan dapat mengamankan finansial keluarga. Saat badai ujian sakit datang, keluarga tetap terlindungi dengan cara yang penuh keberkahan," kata Joko di Jakarta, dikutip Rabu 17 Juni 2026.
Para perencana keuangan pun kerap mengingatkan bahwa membangun aset melalui investasi saja tidak cukup. Perlindungan terhadap risiko yang dapat menggerus aset juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan finansial keluarga.
Vivin Arbianti Gautama, Chief Customer & Marketing Officer Prudential Syariah, menilai risiko kesehatan merupakan salah satu faktor yang paling sering mengganggu stabilitas keuangan rumah tangga. Menurutnya, banyak masyarakat baru menyadari besarnya biaya layanan medis ketika mereka atau anggota keluarganya harus menjalani perawatan intensif.
"Risiko sakit bisa datang kapan saja tanpa aba-aba. Pengalaman seperti yang dialami Pak Joko menunjukkan bahwa perlindungan kesehatan tidak hanya membantu saat menjalani perawatan, tetapi juga menjaga kondisi finansial keluarga agar tetap stabil ketika menghadapi situasi yang tidak terduga," ujar Vivin.
Ia menyebut tingginya kebutuhan perlindungan kesehatan tercermin dari besarnya nilai manfaat yang dibayarkan kepada peserta. Sejak berdiri sebagai entitas mandiri pada 2022 hingga 2025, Prudential Syariah telah membayarkan santunan dan klaim senilai Rp8,5 triliun kepada lebih dari 325 ribu peserta. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa risiko kesehatan dan berbagai risiko kehidupan lainnya merupakan tantangan nyata yang dihadapi masyarakat Indonesia.
Bagi generasi muda yang tengah membangun karier dan mengumpulkan aset, ancaman terbesar tidak selalu berasal dari rendahnya pendapatan. Dalam banyak kasus, justru pengeluaran besar yang datang secara tiba-tiba menjadi faktor yang paling mengganggu kondisi keuangan.
Karena itu, para ahli keuangan menilai bahwa investasi dan proteksi seharusnya berjalan beriringan. Investasi berfungsi untuk menumbuhkan kekayaan, sementara proteksi berperan menjaga kekayaan tersebut agar tidak terkikis ketika risiko datang.
Pada akhirnya, pengalaman yang dialami Joko menunjukkan bahwa dampak sakit tidak hanya dirasakan pada kondisi fisik seseorang. Konsekuensi ekonominya dapat berlangsung jauh lebih lama dan memengaruhi seluruh anggota keluarga. Di tengah ketidakpastian yang selalu ada, kesiapan menghadapi risiko kesehatan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan keuangan rumah tangga dan memastikan rencana masa depan tetap berjalan sesuai harapan.
BERITA TERKAIT: