"Sekarang terbukti kenapa rusunnya masih nggak penuh. Karena mereka pulang kampung semua ke Bogor, ke Jawa," ujarnya di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (26/8).
Kata Basuki, sebagian besar warga yang tinggal di Kampung Pulo tidak memiliki rumah permanen. Mereka mengontrak rumah-rumah yang ada di bantaran sungai itu.
"Banyak yang ngontrak di sana," katanya.
Sebagaimana diketahui, Pemprov DKI belum mengumumkan berapa jumlah resmi warga Kampung Pulo yang tinggal di bantaran Kali Ciliung yang berhasil digusur. Saat ini terdapat 520 bidang tanah yang telah selesai dirobohkan. Namun tidak disebutkan berapa kepala keluarga (KK) yang tinggal di sana. Penggusuran terjadi sejak Kamis (20/8) kemarin.
Hingga saat ini Dinas Perumahan mengaku masih mendata berapa jumlah KK yang tinggal di 520 bidang ini. Jumlah rusun yang tersedia di Jatinegara Barat juga kebetulan berjumlah sama dengan luas bidang lahan Kampung Pulo yang digusur, yakni 520 unit. Hingga Minggu (23/8) kemarin baru 417 unit rusun yang telah diambil kuncinya oleh warga.
Sementara Lurah Kampung Melayu Bambang Pangestu mengatakan terdapat 926 KK yang harus digusur dari bantaran Sungai Ciliwung.
"Ada 300 KK yang masih antri untuk mendapatkan rusun dari total 926 KK," ujar Bambang saat dihubungi
RMOL, Sabtu (22/8).
BERITA TERKAIT: