"Yang bersangkutan diduga terlibat dalam kasus itu, tapi yang bersangkutan tidak menyadari kalau itu untuk pembunuhan," kata Tito usai raker bersama Komisi III DPR di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Rabu (22/2).
Mantan Kapolda Metro Jaya ini menjelaskan, informasi ini diperolehnya dari liaison officer (LO) Polri maupun kepolisian Malaysia.
Berdasarkan informasi itu, lanjut Tito, disebutkan bahwa Siti sedang mengikuti program prank atau sebuah lelucon. Mereka bahkan sudah mengikuti shooting sebanyak tiga kali. Rekrutmennya berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia.
"Yang bersangkutan direkrut kemudian untuk jadi pelaku lelucon, prank, yang lucu-lucu. Satu lagi warga negara Vietnam," jelasnya.
Sedangkan empat buron yang diduga merekrut para tersangka jika dilihat dari data, berasal dari Malaysia, tapi berpaspor Korea Utara.
"Dan tiga atau empat orang dari Malaysia sempat transit di Indonesia, langsung ke negara lain," bebernya.
Beberapa waktu lalu, dalam konferensi pers, pihak kepolisian Malaysia menyatakan tetap tidak mempercayai apapun pengakuan dari Siti.
"Nggak apa-apa, silakan didalami aja. Teman-teman dari kepolisian Malaysia punya hak untuk itu. Sama dengan kita kalau terjadi di Indonesia kita tidak semudah itu mengikuti keterangan tersangka, kita akan mendalami, mendalami, mendalami keterangan itu," ujarnya, menekankan.
Namun ia menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tetap memberikan perlindungan terhadap Siti Aisyah.
"Kalau WNI kita tidak salah jangan dipaksakan, tapi kalau memang bersalah ya diproses hukum sesuai sistem hukum yang ada," pungkasnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: