Sejarah Houthi di Yaman Kelompok Bersenjata yang Didukung Iran

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/tifani-5'>TIFANI</a>
OLEH: TIFANI
  • Rabu, 16 September 2026, 18:37 WIB
Sejarah Houthi di Yaman Kelompok Bersenjata yang Didukung Iran
Ilustrasi Sejarah Houthi Yaman
Kecil Besar
rmol news logo Kelompok Houthi kembali menjadi sorotan setelah Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat dan menghancurkan sebuah drone yang disebut diluncurkan Houthi dan bergerak menuju Makkah pada Selasa (15/9/2026). Insiden tersebut diikuti pengaktifan peringatan keamanan di Makkah, Jeddah, dan Taif selama beberapa menit sebelum akhirnya dicabut.

Houthi merupakan kelompok politik sekaligus militer yang berasal dari wilayah utara Yaman. Dalam perkembangannya, kelompok yang juga dikenal dengan nama Ansar Allah ini berubah dari gerakan kebangkitan keagamaan Zaidiyah menjadi kekuatan bersenjata yang menguasai wilayah luas di Yaman.

Perkembangan terbaru menunjukkan posisi Houthi semakin penting dalam konflik regional. Pada September 2026, kelompok tersebut memperluas pengaruhnya di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman dan bergerak mendekati kawasan strategis Selat Bab El Mandeb.

Lantas, siapa Houthi dan bagaimana sejarah kelompok tersebut?

Siapa Houthi di Yaman?

Houthi adalah kelompok politik dan militer yang berakar dari komunitas Zaidiyah, salah satu cabang Syiah yang secara historis banyak berkembang di wilayah utara Yaman. Kelompok ini juga disebut Ansar Allah atau "Partisan of God". 

Menurut Middle East Institute, akar gerakan Houthi berasal dari gerakan kebangkitan Zaidiyah yang berkembang di Yaman pada 1980-an hingga awal 1990-an. Gerakan tersebut awalnya berfokus pada kebangkitan keagamaan dan mobilisasi politik di kalangan masyarakat Zaidiyah.

Nama Houthi berasal dari keluarga al-Houthi. Salah satu tokoh pentingnya adalah Hussein Badr al-Din al-Houthi, yang memimpin pemberontakan terhadap pemerintah Yaman pada 2004, Hussein tewas pada tahun yang sama.

Setelah kematiannya, kepemimpinan gerakan beralih kepada saudaranya, Abdul Malik al-Houthi, yang hingga kini menjadi pemimpin utama kelompok tersebut. Di bawah Abdul Malik, Houthi berkembang dari kelompok bersenjata yang beroperasi terutama di wilayah utara menjadi kekuatan yang mampu menguasai ibu kota Yaman, Sana'a, sekaligus memainkan peran dalam konflik Timur Tengah.

Awal Mula Gerakan Houthi

Cikal bakal Houthi dapat ditelusuri dari gerakan Shabab al-Mu'minin atau Believing Youth yang berkembang pada awal 1990-an. Gerakan tersebut pada awalnya berupa kelompok pendidikan dan kebangkitan keagamaan yang berusaha memperkuat kembali identitas Zaidiyah di kalangan masyarakat Yaman bagian utara.

Keluarga al-Houthi kemudian memainkan peran penting dalam perubahan gerakan tersebut. Hussein al-Houthi semakin aktif mengkritik pemerintahan Presiden Ali Abdullah Saleh, terutama terkait kebijakan pemerintah, pengaruh Amerika Serikat, serta perkembangan kelompok Salafi di wilayah utara Yaman.

Ketegangan akhirnya berubah menjadi konflik bersenjata pada 2004 ketika pemerintah berupaya menangkap Hussein al-Houthi. Hussein kemudian tewas dalam perang pertama pada 2004. 

Namun, kematiannya tidak menghentikan gerakan tersebut. Kepemimpinan diteruskan oleh keluarga al-Houthi, termasuk Abdul Malik, dan konflik dengan pemerintah Yaman terus berlanjut.

Enam Perang Houthi Melawan Pemerintah Yaman

Periode 2004 hingga 2010 menjadi fase penting dalam pembentukan Houthi sebagai kelompok bersenjata. Dalam kurun tersebut, Houthi terlibat dalam enam konflik dengan pemerintah Yaman di wilayah Saada dan sekitarnya. 

Konflik tersebut berlangsung secara bertahap dan melibatkan militer Yaman. Houthi juga terlibat dalam konflik dengan Arab Saudi pada 2009-2010 setelah pertempuran meluas hingga wilayah perbatasan.

Serangkaian perang tersebut membuat kelompok Houthi semakin terlatih dalam peperangan. Basis dukungannya juga berkembang, tidak lagi terbatas pada aktivis Zaidiyah, tetapi mencakup kelompok masyarakat yang kecewa terhadap kebijakan pemerintah Yaman.

Houthi dan Arab Spring di Yaman

Gelombang Arab Spring pada 2011 turut mengubah peta politik Yaman. Houthi ikut dalam aksi protes yang menuntut Presiden Ali Abdullah Saleh turun dari jabatan. 

Saleh akhirnya meninggalkan kekuasaan pada 2012 dan digantikan oleh Abd-Rabbu Mansour Hadi. Namun, hubungan politik Houthi dan Saleh kemudian mengalami perubahan. 

Keduanya sempat membentuk aliansi untuk menghadapi lawan politik masing-masing. Aliansi tersebut membantu Houthi memperluas kekuatan militernya. 

Akan tetapi, hubungan itu kembali pecah dan berujung pada kematian Saleh pada 2017 setelah ia menyatakan memutus hubungan dengan Houthi.

Houthi Merebut Sana'a pada 2014

Titik balik terbesar dalam sejarah Houthi terjadi pada 2014, ketika kelompok tersebut berhasil merebut Sana'a, ibu kota Yaman. Pengambilalihan ibu kota membuat Houthi tidak lagi sekadar menjadi kelompok pemberontak dari wilayah utara. Mereka berubah menjadi salah satu kekuatan utama yang menentukan arah politik dan militer Yaman.

Pada awal 2015, Houthi mengambil alih sejumlah institusi penting dan menekan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi. Hadi kemudian meninggalkan Sana'a dan akhirnya berada di Arab Saudi.

Perkembangan tersebut mendorong Arab Saudi membentuk koalisi militer yang mulai melakukan intervensi di Yaman pada Maret 2015. Perang yang berlangsung setelahnya menjadi salah satu konflik paling menghancurkan di kawasan tersebut dan memperburuk krisis kemanusiaan Yaman.

Houthi kerap disebut sebagai kelompok yang didukung Iran dan menjadi bagian dari jaringan "Poros Perlawanan" atau Axis of Resistance yang memiliki hubungan dengan Teheran. Jaringan tersebut juga mencakup kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Palestina serta sejumlah kelompok bersenjata di Irak.

Hubungan Houthi dan Iran memang semakin erat dari waktu ke waktu, terutama dalam aspek militer. Namun, Houthi tidak identik dengan Hizbullah dalam hal struktur maupun ideologi.

Middle East Institute mencatat bahwa Houthi memiliki akar Zaidiyah sendiri dan tetap memiliki tingkat otonomi dari Iran. Pengaruh Iran terhadap Houthi berkembang melalui hubungan politik, ideologi, serta dukungan militer.

Arab Saudi dan Amerika Serikat selama ini menuduh Iran memasok senjata kepada Houthi, Iran membantah tuduhan tersebut. Peran Houthi kemudian meluas dari perang di Yaman ke konflik regional.

Sejak 2024, Houthi mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah yang mereka klaim memiliki kaitan dengan Israel. Kelompok tersebut menyatakan serangan dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina selama perang Gaza.

Serangan terhadap pelayaran komersial di Laut Merah berdampak pada jalur perdagangan internasional. Sejumlah perusahaan pelayaran memilih menghindari kawasan tersebut dan mengalihkan perjalanan melalui rute yang lebih jauh mengitari ujung selatan Afrika.

Posisi Houthi menjadi semakin strategis karena wilayah operasi mereka berada di dekat Selat Bab El Mandeb, salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: TIFANI

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA