Penegasan tersebut disampaikan dalam sidang ke-8 Komisi Kerja Sama Bersama Maroko-Guinea yang berlangsung di Conakry, dikutip Jumat, 11 September 2026.
Sidang tersebut dipimpin bersama Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita dan Menteri Luar Negeri Guinea di Luar Negeri Morissanda Kouyate.
Dalam pidato pembukaan, Kouyaté menyampaikan kembali posisi Guinea yang secara tegas mendukung klaim Maroko atas Sahara sekaligus kedaulatan Rabat atas wilayah tersebut.
"Republik Guinea menegaskan kembali dukungan teguh dan tak tergoyahkannya terhadap identitas Maroko di Sahara dan kedaulatan Maroko atas bagian wilayah ini," ujar Kouyate.
Dia juga menegaskan bahwa Guinea mendukung rencana otonomi di bawah kedaulatan Maroko sebagai satu-satunya solusi untuk menyelesaikan sengketa tersebut, sebagaimana yang diajukan Maroko di hadapan Dewan Keamanan PBB.
Kouyate menambahkan bahwa pembukaan Konsulat Jenderal Republik Guinea di Dakhla merupakan bentuk konkret dari sikap tersebut sekaligus simbol solidaritas Guinea terhadap Maroko.
"Pembukaan Konsulat Jenderal Republik Guinea di Dakhla merupakan ekspresi nyata dari posisi prinsip ini dan simbol solidaritas yang tak tergoyahkan," kata dia.
Sementara itu, Menlu Bourita menyampaikan terima kasih Pemerintah Kerajaan Maroko atas dukungan tanpa syarat yang secara konsisten diberikan Guinea, baik melalui sikapnya di berbagai forum regional dan internasional maupun melalui pembukaan Konsulat Jenderal Guinea di Dakhla pada Januari 2020.
BERITA TERKAIT: