Dalam wawancara dengan
Fox News, Kellogg menilai kegagalan NATO dalam merespons dinamika keamanan, termasuk konflik dengan Iran, menjadi alasan kuat bagi Washington untuk meninjau ulang struktur aliansi yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan Barat.
Ia bahkan menyebut NATO seperti pengecut dan menyarankan agar AS membuat aliansi militer baru yang lebih solid dan siap bertindak, dengan melibatkan negara-negara seperti Jepang, Australia, Jerman, Polandia, hingga Ukraina.
“NATO ternyata pengecut. Mungkin kita perlu NATO yang baru, lembaga pertahanan yang baru," ujarnya, seperti dikutip pada Jumat, 3 April 2026.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sendiri dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi keluar dari NATO, yang ia sebut sebagai “paper tiger”, terutama setelah sejumlah sekutu menolak mendukung langkah militer AS dalam konflik di Selat Hormuz.
Sejumlah analis memperingatkan, jika gagasan tersebut benar-benar diwujudkan, dampaknya bisa sangat besar terhadap stabilitas global.
Pakar Paul Goble menilai pelemahan NATO akan menjadi membuka peluang bagi kekuatan seperti Rusia untuk menghadapi negara-negara Barat secara terpisah tanpa kekuatan kolektif.
"Jika aliansi tersebut melemah atau dibubarkan, Putin dan Rusia akan jauh lebih mudah untuk menghadapi negara-negara individual daripada blok Barat yang bersatu," kata dia.
BERITA TERKAIT: