Keterkaitan intelijen Ukraina dalam peristiwa yang menewaskan tiga nyawa itu terungkap dalam dua laporan media AS, New York Times dan Washington Post.
Seorang pejabat senior Ukraina yang diwawancarai oleh
New York Times mengklaim bahwa Kiev berada di balik ledakan itu, menambahkan bahwa serangan itu didalangi oleh dinas intelijen Ukraina dengan menanam bom di sebuah truk yang sedang melintasi jembatan.
Klaim ini kemudian digaungkan oleh Washington Post yang mengutip seorang pejabat pemerintah Ukraina. Surat kabar itu juga mengaitkan ledakan itu dengan layanan khusus negara itu.
Versi ini didukung oleh situs berita Ukrainska Pravda yang mengutip sebuah sumber di dinas keamanan negara itu, mengatakan bahwa badan intelijen, yang disebut SBU, berada di balik serangan itu.
Meskipun tidak secara eksplisit bertanggung jawab atas serangan itu, para pejabat di Ukraina membenarkan ledakan tersebut sebagai 'permulaan'.
"Kimea, jembatan, awal. Segala sesuatu yang ilegal harus dihancurkan, semua yang dicuri harus dikembalikan ke Ukraina, semua yang diduduki Rusia harus diusir," cuit seorang pembantu Presiden Volodymyr Zelensky, Mikhail Podoliak, dalam akun Twitternya.
Sejak Rusia meluncurkan kampanye militernya pada akhir Februari lalu, para pejabat Ukraina telah berulang kali berjanji untuk menyerang jembatan itu, yang berfungsi sebagai penghubung strategis antara semenanjung Krimea Rusia dan Wilayah Krasnodarnya.
Kremlin tidak secara langsung menuduh Kyiv, tetapu Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyatakan bahwa reaksi Ukraina terhadap insiden tersebut merupakan bukti "sifat teroris" dari kepemimpinannya.
Ledakan kuat mengguncang Jembatan Krimea pada Sabtu pagi, menyebabkan sebagian jalan runtuh di bagian kendaraan, serta kebakaran di jalur kereta api paralel di mana tujuh tangki bahan bakar terbakar.
Menurut Komite Anti-Terorisme Nasional Rusia, jembatan itu rusak akibat truk yang meledak saat melintasi jembatan.
BERITA TERKAIT: