Menurut Rektor Universitas Jenderal Ahmad Yani Hikmahanto Juwana, upaya diplomasi telah dilakukan banyak pihak. Tujuannya, agar menghindari konflik bersenjata antarnegara.
Namun demikian, Hikmahanto menyayangkan sikap PBB yang nampak tidak bergeming.
"Sayangnya dalam situasi seperti ini peran Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya Dewan Keamanan, tidak sentral,†ucap Hikmahanto kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (15/2).
Guru besar hukum internasional UI ini menambahkan, Dewan Keamanan PBB seharusnya dapat mengoptimalkan perannya dalam mencegah konflik bersenjata di Ukraina.
“Intinya membuka dialog atau diplomasi antarnegara yang memilki kepentingan dan berpotensi berhadap-hadapan saat konflik bersenjata pecah,†ucapnya.
Di samping itu, lanjut Hikmahanto, masyarakat Ukraina dan Rusia perlu diberi kesempatan untuk mengungkap aspirasi mereka. Dengan demikian, apa yang diinginkan oleh masyarakat dapat diketahui. Tidak hanya para politisi dan pengambil kebijakan semata.
“Bila perlu ada pemimpin negara ketiga yang tidak terafiliasi ke Rusia, Amerika Serikat, Ukraina ataupun NATO yang mau menjadi mediator sehingga terhindar salah tafsir ucapan atau tindakan dari pemimpin yang satu terhadap pemimpin yang lainnya,†tegasnya.
Dia mengatakan, konflik Ukraina ini harus dihindari agar tidak berdampak negatif pada stabilitas keamanan dunia.
"Konflik bersenjata harus dihindari mengingat konsekuensi bila meletus bisa sangat luar biasa terhadap eksistensi dunia. Dunia harus menganggap ketegangan Ukraina sebagai ancaman besar terhadap perdamaian internasional,†demikian Hikmahanto.
BERITA TERKAIT: