Pasukan anti-teroris juga berhasil menghentikan kegiatan 'ancaman teroris terparah' di negara itu selama operasi pembersihan, Jumat (7/1).
Presiden Kazakh Kassym-Jomart Tokayev dalam postingannya di twitter pada Jumat (7/1), mengatakan, ada enam gelombang serangan teroris di Almaty selama beberapa hari belakangan. Jumlah keseluruhan teroris itu sendiri sekitar 20.000 orang. Mereka adalah orang-orang terlatih dan berasal dari luar Kazakhstan, merujuk pada bahasa yang mereka gunakan.
"Gangster dan teroris sangat terlatih, terorganisir dan dipimpin oleh pusat khusus. Beberapa dari mereka berbicara bahasa non-Kazakh. Setidaknya ada enam gelombang serangan teroris di Almaty, jumlah totalnya 20 ribu," ujar Tokayev, seperti dikutip dari
Daily Sabah, Jumat.
Ia menambahkan perintah operasi kontra-teroris ditujukan untuk menghilangkan ancaman keamanan nasional.
“Mereka memukuli dan membunuh pejabat polisi dan tentara, membakar gedung-gedung administrasi, menjarah tempat-tempat pribadi dan toko-toko, membunuh warga sekuler, dan memperkosa," katanya. "Tidak ada pembicaraan dengan teroris, kita harus membunuh mereka!"
Puluhan orang tewas dalam bentrokan di jalan-jalan dan pengunjuk rasa telah membakar dan menggeledah gedung-gedung publik di beberapa kota dalam kekerasan terburuk dalam 30 tahun kemerdekaan Kazakhstan.
Meski situasi sangat buruk, tidak ada kerusakan yang terjadi di kedutaan asing yang ada di Almaty. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Kazakh, Aibek Smadiyarov, mengatakan bahwa kantor dan kediaman perwakilan asing dalam keadaan aman.
Penjaga Perdamaian dari Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO), sebuah blok keamanan pasca-Soviet, akan tinggal di Kazakhstan untuk waktu yang belum bisa ditentukan, sampai situasi di negara itu menjadi normal.
"Pasukan penjaga perdamaian yang terdiri dari pasukan multinasional negara-negara anggota CSTO dikerahkan dan akan tetap untuk waktu yang singkat sampai situasi stabil di Kazakhstan," tulisnya.
BERITA TERKAIT: