Laporan tersebut dikonfirmasi jaringan yang berbasis di Qatar itu lewat akun Twitternya pada Minggu (14/11).
"Pasukan keamanan menggerebek rumah Al-Musalami al-Kabbashi, kepala biro Al Jazeera di Sudan, dan menahannya," kata Al Jazeera di Twitter tanpa menjelaskan lebih lanjut, seperti dikutip dari
AFP.
Outlet media lain selain Al Jazeera juga menjadi sasaran sejak kudeta, ketika jenderal tinggi Abdel Fattah al-Burhan menyatakan keadaan darurat, menahan kepemimpinan sipil dan mencopot pemerintahan yang dilantik setelah penggulingan militer presiden otokratis Omar al-Bashir April 2019 oleh militer.
Burhan, kepala negara de facto sejak Bashir jatuh, telah memecat kepala televisi pemerintah Sudan, Luqman Ahmed, seorang veteran pendukung pemerintahan sipil. Kepala kantor berita resmi SUNA juga dipecat setelah tentara merebut tempat itu dan memaksa wartawan keluar.
Siaran di beberapa saluran radio swasta juga telah ditangguhkan, menurut wartawan yang bekerja di sana.
Kudeta telah memicu kecaman global yang luas dan tindakan hukuman oleh negara-negara Barat dan Bank Dunia.
Menjelang demonstrasi terbaru, PBB meminta pasukan keamanan untuk menahan diri, di negara di mana lebih dari 250 orang telah tewas dalam protes massal yang mengarah ke penggulingan Bashir.
Sejak kudeta, 21 lainnya tewas dalam demonstrasi, menurut serikat pekerja medis independen. Serikat pekerja mengatakan angka itu termasuk enam orang lagi yang meninggal pada Sabtu.
“Lima ditembak mati sementara satu meninggal karena mati lemas oleh gas air mata,†kata petugas medis.
BERITA TERKAIT: