Puluhan polisi anti huru hara berusaha membubarkan protes. Seorang juru bicara polisi mengatakan beberapa orang ditahan untuk diinterogasi setelah pengunjuk rasa Thailand melemparkan batu dan bom asap berwarna.
Biro Kepolisian Metropolitan pada hari Selasa mengidentifikasi mereka sebagai Wichapat Srikasipan (21), Pannapat Chantanangkul (20) dan Kiatisak Panrenu (20).
"Ketiga pria tersebut diinterogasi dan didakwa di kantor polisi Yannawa. Demonstran lainnya juga akan dituntut," kata pernyataan itu, seperti dikutip dari
Bangkok Post, Selasa (2/2).
Polisi mengatakan, ketiganya ditangkap saat para demonstran melempari petugas yang sedang berusaha untuk mengakhiri demonstrasi.
Ketiga tersangka didakwa dengan pasal pelanggaran protokol kesehatan, karena mengorganisir kerumunan di tengah aturan ketat pemerintah untuk mencegah penyebaran pandemi Covid-19.
Para pengunjuk rasa, yang mulai berkumpul sekitar pukul 15.30, memberikan pidato dalam bahasa Thailand dan Burma, menentang kudeta Myanmar.
Polisi telah memerintahkan pengunjuk rasa untuk bubar sekitar jam 4 sore, namun para penunjuk rasa tetap tidak bergerak dan melebihi jangka waktu yang disepakati yaitu 30 menit, di tengah pembatasan aturan Covid-19.
Mengutip
AFP, Senin (1/2), Perdana Menteri Thailand - mantan panglima militer yang merebut kekuasaan dalam kudeta tahun 2014 - hingga saat ini belum memberikan komentar publik tentang kudeta tetangganya, Myanmar.
Sementara, orang nomor dua, Prawit Wongsuwan, mengatakan masalah itu adalah 'urusan rumah tangga' Myanmar.
Ada lebih dari satu juta pekerja migran Myanmar di Thailand, menurut angka resmi, tetapi jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi.
BERITA TERKAIT: