Keterlibatan Djaka Budhi terungkap dalam konstruksi perkara pengembangan penyidikan yang kini menjerat Kepala Subdirektorat Penindakan Direktorat P2 Ditjen Bea dan Cukai terkait Kepabeanan periode 2025-2026, Gatot Heroe Hernanda (GHH), sebagai tersangka baru.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein mengatakan, rangkaian perkara bermula ketika John Field dipanggil oleh Kepala Seksi Intelijen Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Orlando Hamonangan (ORL), pada Juli 2025.
Dalam pertemuan itu, John menjelaskan kegiatan usaha perusahaannya sekaligus meminta pihak Bea dan Cukai memberikan informasi apabila terdapat atensi terhadap aktivitas bisnis Blueray Cargo
"Dalam pertemuan itu, JF menjelaskan terkait kegiatan usaha korporasi miliknya serta meminta pihak Bea dan Cukai untuk memberikan informasi apabila ada atensi," kata Taufik kepada wartawan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Rabu malam, 26 Agustus 2026.
Menurut Taufik, dalam pertemuan tersebut diduga muncul permintaan sejumlah uang dari Orlando untuk Subdit Penindakan dan Subdit Intelijen. Beberapa hari kemudian, John Field kembali dipanggil ke Kantor Pusat Bea dan Cukai. Kali ini, dia bertemu dengan Direktur Penindakan dan Penyidikan DJBC periode 2024 hingga Januari 2026, Rizal (RZL), serta Gatot Heroe.
"Dalam pertemuan lanjutan tersebut, JF meminta bantuan untuk memperlancar setiap proses kepabeanan atau
customs clearance atas perusahaan miliknya," ujar Taufik.
Dari pertemuan tersebut, Rizal kemudian menawarkan John Field untuk bertemu langsung dengan Djaka Budhi.
"Sebagai tindak lanjut dari pembahasan tersebut, RZL menawarkan JF untuk bertemu langsung dengan DBU selaku Direktur Jenderal Bea dan Cukai," ungkap Taufik.
Pertemuan tersebut kemudian berlangsung di sebuah hotel di Jakarta Pusat. Djaka Budhi hadir bersama Rizal, Gatot Heroe, sejumlah pihak lain dari Bea dan Cukai, serta beberapa pengusaha, termasuk John Field.
Setelah pertemuan tersebut, John Field kembali dihubungi Orlando untuk membahas besaran uang yang harus disiapkan. Orlando awalnya menyampaikan permintaan untuk BC1 sebesar Rp2 miliar, BC2 Rp1 miliar, dan BC3 Rp500 juta.
Namun, beberapa hari kemudian nominal tersebut berubah. Untuk BC1 menjadi Rp3 miliar, BC2 Rp2 miliar, dan BC3 Rp1 miliar.
"Atas permintaan tersebut, JF kemudian menyanggupinya dan memerintahkan stafnya menyetorkan 'jatah uang bulanan' dalam bentuk SGD untuk BC1, BC2, BC3, serta sejumlah pegawai di Subdit Intelijen termasuk ORL dan Subdit Penindakan," jelas Taufik.
Untuk jatah Subdit Penindakan, uang diberikan melalui Enov Puji Wijanarko (EPW) selaku Kepala Seksi Penindakan Kepabeanan I. Dari jalur tersebut, sebagian uang kemudian diberikan kepada Gatot Heroe Hernanda
"Termasuk jatah untuk GH yang diserahkan oleh EPW di ruang kerjanya," kata Taufik.
Dalam konstruksi perkara, Rizal juga disebut memberikan arahan kepada stafnya di Direktorat P2 DJBC agar membantu perusahaan milik John Field.
"Kalau ada apa-apa di lapangan Blueray dibantu ya," kata Taufik mengutip arahan Rizal.
Arahan tersebut dimaksudkan untuk mempercepat proses pemeriksaan fisik kontainer milik Blueray agar tidak terlalu lama menunggu
KPK mengungkap, selama periode Juli 2025 hingga Januari 2026, John Field diketahui menyetorkan uang kepada sejumlah pihak di lingkungan Bea dan Cukai dengan total mencapai Rp61,9 miliar. Dari total tersebut, Rp3,25 miliar di antaranya diterima Gatot Heroe Hernanda.
"Sehingga, dalam kurun Juli 2025 sampai dengan Januari 2026, JF selaku pemilik PT BR diketahui telah menyetorkan uang kepada sejumlah pihak di Bea dan Cukai dengan total mencapai Rp61,9 miliar, di mana senilai Rp3,25 miliar di antaranya diterima oleh GH," tegas Taufik.
Selain mengungkap aliran uang, KPK juga menyita sejumlah aset dalam pengembangan perkara tersebut. Penyidik menyita tiga unit kendaraan bermotor roda dua jenis motor gede (moge), yakni BMW R Nine T Scrambler, Kawasaki ZR900C, dan Triumph Bonneville Bobber.
KPK juga menyita sejumlah uang tunai dalam valuta asing berupa dolar Singapura dan dolar Amerika Serikat dengan total sekitar Rp2,8 miliar.
BERITA TERKAIT: