Bukan Hanya Jepang, Dua Negara Ini Juga Bahu-Membahu Atasi Tumpahan Minyak Mauritius

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 18 Agustus 2020, 07:53 WIB
Bukan Hanya Jepang, Dua Negara Ini Juga Bahu-Membahu Atasi Tumpahan Minyak Mauritius
Kapal induk MV Wakashio, milik perusahaan Jepang berbendera Panama, kandas dan pecah menjadi dua bagian di dekat Blue Bay Marine Park/Net
rmol news logo Pemerintah Jepang siap mengirimkan tim ahli kedua untuk membantu membersihkan lebih dari seribu ton minyak yang bocor dari kapal curah MV Wakashio di perairan murni lepas pantai Mauritius.

Keputusan itu diambil sesuai kompensasi yang diminta oleh pemerintah Mauritian dari pemilik kapal dan penjamin untuk mengganti rugi semua kerugian dan kerusakan terkait bencana tersebut. Sejauh ini Tokyo telah mengirimkan satu tim yang terdiri dari enam ahli, termasuk seorang ahli penjaga pantai dan diplomat untuk membantu mengatasi masalah tersebut.

“Tim baru yang terdiri dari tujuh ahli akan meninggalkan Jepang pada Rabu (19/8) dan akan membawa bahan-bahan seperti sorben untuk membantu membersihkan minyak,” kata kedutaan Jepang di Mauritius dalam sebuah pernyataa, seperti dikutip dari AFO, Senin (17/8).

“Tumpahan minyak telah menyebabkan kerusakan serius di lingkungan pesisir Tenggara Mauritius dan akan berdampak tak terhindarkan pada industri pariwisata negara itu juga,” lanjut pernyataan itu.

Jepang mengatakan pengiriman tim bantuan itu tak lepas dari permintaan mendesak dan sebagai cara Tokyo untuk menjaga persahabatan kedua negara.

“Jepang telah memutuskan untuk mengirim tim berdasar pertimbangan komprehensif dan holistik dari semua keadaan, termasuk permintaan bantuan mendesak dari Pemerintah Republik Mauritius dan hubungan persahabatan antara kedua negara,” katanya.

MV Wakashio kandas di terumbu karang pada 25 Juli lalu dan mulai mengeluarkan minyak lebih dari seminggu kemudian. Baik pemerintah Mauritian dan Jepang mendapat kecaman karena tidak segera bertindak untuk mencegah tumpahan berskala besar.

Perusahaan Jepang pemilik kapal Nagashiki, telah berjanji untuk 'dengan tulus' menanggapi permintaan kompensasi atas kerusakan lingkungan laut. Kapal itu kemudian terbelah dua selama akhir pekan, dan sebagian darinya tetap terdampar di terumbu karang.

Ribuan warga Mauritania dengan sukarela siang dan malam bahu-membahu untuk membersihkan air berwarna biru pucat yang telah lama menarik minat orang yang berbulan madu dan wisatawan, sebelum operasi pembersihan diserahkan sepenuhnya kepada para ahli.

Greenpeace menyebut tumpahan itu sebagai "bencana ekologis terburuk" dalam sejarah negara itu, mengancam lahan basah yang memiliki hutan bakau langka dan sejumlah spesies ikan dan terumbu karang.

Jepang bukan satu-satunya negara yang mengirimkan bantuan.

Sebuah tim beranggotakan 10 orang dari penjaga pantai India tiba di Mauritius pada hari Minggu (16/8) dengan 28 ton peralatan termasuk boom, tongkang dan skimmer.

Dan pada hari Senin (17/8) Menteri Prancis untuk wilayah luar negeri Sebastien Lecornu mengatakan Paris akan mengirim tiga ahli untuk membantu Mauritius menentukan langkah apa yang harus dilakukan dengan bangkai kapal itu.

Prancis telah mengirim pesawat, kapal, dan peralatan militer untuk membantu menahan tumpahan minyak, yang juga mengancam pulau Prancis La Reunion di barat daya Mauritius. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA