Demikian pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Taiwan pada Selasa (5/5), terkait dengan seruan untuk dimasukkannya Taiwan menjadi observer di Mahkamah Kesehatan Dunia (WHA).
Pengecualian yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap Taiwan telah membuat geram Taipei. Taiwan mengatakan, hal tersebut telah menciptakan celah berbahaya dalam perang melawan virus corona baru.
Pejabat hukum utama WHO, Steven Solomon, pada Senin (4/5) mengatakan, WHO mengakui Republik Rakyat China sebagai satu perwakilan sah untuk China. Sesuai dengan kebijakan PBB sejak 1971, kehadiran Taiwan adalah satu dengan China.
Menanggapi hal tersebut, jurubicara Kementerian Luar Negeri Taiwan, Joanne Ou mengatakan, keputusan 1971 hanya untuk menyelesaikan siapa yang mewakili China, bukan Taiwan. Itu juga tidak memberikan China kekuatan untuk mewakili Taiwan secara internasional.
"Hanya pemerintah Taiwan yang terpilih secara demokratis yang dapat mewakili 23 juta orang Taiwan di komunitas internasional," ujar Ou seperti dimuat
Reuters.
Ou mengatakan, WHO harus membuang kendali pemerintah China dan membiarkan Taiwan berpartisipasi secara penuh untuk memerangi virus.
"Jangan biarkan campur tangan politik China yang tidak patut menjadi penghalang dan menghambat perjuangan bersatu dunia melawan virus," lanjutnya.
Taiwan sendiri pernah menjadi pengamat di WHA dari 2009 hingga 2016, ketika hubungan Taipei dan Beijing menghangat. Namun setelah Presiden Tsai Ing-wen berkuasa, China menghalangi partisipasi Taiwan di komunitas internasional.
Di sisi lain, Amerika Serikat sangat mendukung partisipasi Taiwan di WHA sebagai pengamat. Hal yang memicu ketegangan antara Washington dan Beijing kian memanas.
BERITA TERKAIT: