Diktama yang digelar selama dua hari, 26-27 September 2026, menjadi Diktama PASTI pertama yang diselenggarakan Pagar Nusa di luar Indonesia. Kegiatan dibuka di Kantor PCI NU Taiwan Ranting Taichung dan ditutup di ASEAN Square lantai 6, Taichung.
Dari 30 orang yang mendaftar, sebanyak 28 peserta mengikuti Diktama. Hasil evaluasi menetapkan 25 peserta lulus, sedangkan tiga lainnya dinyatakan tidak lulus karena tidak mengikuti materi atau sesi pendidikan secara lengkap.
Ke-25 lulusan terdiri dari 23 laki-laki dan dua perempuan berusia 23 hingga 32 tahun. Mereka berasal dari seluruh Pimpinan Anak Cabang Istimewa (PACI) Pagar Nusa di Taiwan, dengan latar belakang pekerja dan mahasiswa program magister.
Ketua Umum PP Pagar Nusa Muchamad Nabil Haroen atau Gus Nabil, mengatakan, pelaksanaan Diktama di Taiwan menjadi bagian dari upaya menyesuaikan kaderisasi dengan perkembangan struktur Pagar Nusa di luar negeri.
“Kalau Pagar Nusa tumbuh di luar negeri, kaderisasinya juga harus tumbuh. Tidak cukup kita punya struktur dan bendera Pagar Nusa di berbagai tempat. Orang-orang yang berada di dalamnya juga harus ditempa,” kata Gus Nabil.
Selama pendidikan, peserta tidak hanya mendapat pembekalan fisik dan pencak silat. Mereka juga mempelajari Aswaja, ke-NU-an dan kebangsaan, ke-Pagar Nusa-an, kepemimpinan dan organisasi, kedisiplinan, hingga materi Pasukan Inti dan pengamanan.
Gus Nabil menekankan, anggota PASTI tidak cukup hanya memiliki kemampuan bela diri. Mereka harus mampu menjadi “ksatria khidmah” yang dapat mengendalikan ego dan amarah serta menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk menjaga dan melayani.
“Kemenangan terbesar seorang pendekar adalah mampu mengalahkan dirinya sendiri,” tegas Gus Nabil.
Ia mengingatkan, Pasukan Inti bukanlah pasukan kekuasaan ataupun kelompok yang dibentuk untuk menakut-nakuti dan mempertontonkan kekuatan. Justru, semakin dekat seorang kader dengan lingkaran inti organisasi, semakin besar tanggung jawab untuk berkhidmah.
“Pendekar Pagar Nusa tidak diukur dari seberapa kuat dia menghadapi orang lain. Salah satu ukuran terpenting justru seberapa kuat dia mengendalikan dirinya sendiri dan mengecilkan ego untuk kepentingan yang lebih besar,” ujarnya.
Pesan tersebut juga berlaku bagi kader Pagar Nusa yang berada di luar negeri. Menurut Gus Nabil, perilaku mereka ikut membawa nama Pagar Nusa, NU, sekaligus Indonesia.
“Kader Pagar Nusa di luar negeri jangan hanya dikenal karena silatnya. Mereka harus dikenal karena akhlaknya, kedisiplinannya, kepeduliannya, dan kemampuannya menjaga persaudaraan,” kata Gus Nabil.
Setelah menyelesaikan pendidikan dan evaluasi, 25 peserta mengikuti pembaiatan dan pengukuhan pada Minggu sore. Prosesi dipimpin langsung Komandan Komando Pasukan Inti Nasional (Dankopasnas) Pagar Nusa, Malik.
Malik menyatakan puas dengan kualitas kader yang menyelesaikan Diktama. Namun, ia menegaskan bahwa status sebagai anggota Pasukan Inti membawa tanggung jawab yang harus dijaga setelah pendidikan berakhir.
“Kualitas Pasukan Inti Taiwan memuaskan. Jaga diri, taati aturan dan kode etik,” tegas Malik.
Prosesi dilanjutkan dengan ijazahan yang diberikan Gus Nabil kepada 25 kader. Wirid dan amalan yang bersanad dari para kiai Nusantara tersebut menjadi bekal spiritual bagi anggota PASTI dan digunakan sesuai kebutuhan.
Gus Nabil kembali mengingatkan para lulusan agar menjaga ketertiban dan kedisiplinan. Menurutnya, kelulusan Diktama bukanlah titik akhir, melainkan awal pembuktian kader di tengah organisasi dan masyarakat.
“Bersiaplah menjadi ksatria khidmah. Tertib, disiplin. Diktama kali ini memiliki persentase kelulusan tertinggi sepanjang Diktama diselenggarakan di berbagai daerah,” kata Nabil.
Ketua PCI Pagar Nusa Taiwan Fuad Hasyim berharap 25 anggota PASTI yang baru dikukuhkan dapat menjadi penggerak berbagai kegiatan Pagar Nusa dan NU di Taiwan.
“Sukseskan seluruh agenda Pagar Nusa dan NU di seluruh tingkatan. Terima kasih kepada PCI NU yang selalu membimbing dan mendukung,” kata Fuad.
PCI Pagar Nusa Taiwan kini memiliki lima PACI, yakni Yi Lan, Taipei, Taichung, Changhua, dan Tainan. Selain itu, terdapat tiga Pimpinan Ranting Istimewa (PRI), yakni Taoyuan, Tunghai, dan Ding Fan Po.
Setelah Diktama, PCI Pagar Nusa Taiwan akan menyiapkan rencana tindak lanjut bagi 25 kader tersebut. Mereka diproyeksikan ikut memperkuat organisasi, kaderisasi, pembinaan pencak silat, kegiatan sosial, serta khidmah bagi masyarakat Indonesia di Taiwan.
Diktama turut dihadiri Wakil Ketua PCI NU Taiwan Kiai Nur Kholiq, Rois Syuriah PCINU Taiwan Ranting Taichung Gus Abdul Kholiq Mahasin, Tanfidziyah PCINU Taiwan Ranting Taichung Gus Wahid Muhlisin, serta Sekretaris PCINU Taiwan Ranting Taichung Gus Muhammad Falah.
Mustasyar PCINU Taiwan Ranting Taichung Kiai Abdul Mukti hadir pada pembukaan. Dalam kesempatan tersebut, PP Pagar Nusa juga menyerahkan cenderamata kepada PCI NU Taiwan yang diterima Kiai Nur Kholiq.
Gus Nabil menyebut Taiwan sebagai titik awal pengembangan model kaderisasi Pagar Nusa di luar Indonesia. Pengalaman hidup lintas budaya, disiplin kerja, kemampuan bahasa, serta jejaring diaspora menjadi modal yang dapat memperkuat jaringan Pagar Nusa secara internasional.
Karena itu, kader PASTI Taiwan diarahkan memiliki tiga karakter sekaligus. Mereka diharapkan menjadi pendekar yang terlatih dan disiplin, santri yang menjaga adab dan tradisi, sekaligus “diplomat rakyat Indonesia” yang mampu membangun persahabatan lintas budaya.
Bagi Nabil, pencak silat juga memiliki peran lebih luas sebagai jembatan persahabatan dan kebudayaan Indonesia. Keberhasilan kaderisasi di luar negeri, kata dia, tidak semata dilihat dari jumlah struktur atau anggota, tetapi dari kiprah dan manfaat yang diberikan kader di tempat mereka berada.
“Taiwan adalah permulaan. Yang menentukan bukan berapa jumlah kita hari ini. Yang menentukan adalah apa yang kita lakukan setelah keluar dari ruangan ini. Jaga kiai. Jaga jam’iyyah. Jaga persaudaraan. Jaga Indonesia,” pungkas Gus Nabil.

BERITA TERKAIT: