Fauci yang belakangan mengusulkan agar negara membatasi semua aktivitas warga demi mencegah penyebaran virus corona, mendapat pertentangan dari pendukung Trump dari kelompok sayap kanan.
Fauci secara konsisten mengingatkan warga AS agar menjaga jarak sosial dan menghentikan kegiatan ekonomi.
Kebijakan itu ditentang Partai Republik. Mereka percaya bahwa penanganan krisis Covid-19 terlalu berlebihan. Kelompok itu pun meminta agar Trump memecatnya.
Tidak disangka Trump merespon ungkapan ketidaksukaan kelompok itu dalam akun Twitternya dengan cara me-retweetnya. Masyarakat pun dibuat heboh.
Gedung Putih segera menjernihkan situasi tersebut.
"Pembicaraan di media (sosial) ini konyol, Presiden Trump tidak memecat Dr Fauci. Fauci telah dan tetap menjadi penasihat tepercaya Presiden Trump," kata Juru Bicara Gedung Putih Hogan Gidley, mengutip
AFP, Selasa (14/4).
Tujuan Trump me-retweet hanya untuk membela diri dari upaya media yang mendorong beredarnya berita palsu soal respons pemerintah yang dianggap lamban dalam menangani wabah virus corona, menurut Gidley.
"Demokrat dan media lah yang mengabaikan virus corona. (Trump) Sebaliknya, bertindak tegas untuk menyelamatkan nyawa warga Amerika dengan menghentikan perjalanan dari China dan Eropa," ujar Gidley.
Republik khawatir kebijakan Fauci akan membuat kelumpuhan ekonomi AS, dan itu berarti akan mengganggu peluang Trump untuk terpilih kembali dalam pemilihan presiden pada November mendatang.
Isu pun berkembang, Fauci disebut-sebut sosok yang sengaja dikirim Partai Demokrat untuk mengacaukan pemerintahan Trump.
BERITA TERKAIT: