Keputusan ini muncul hanya beberapa jam setelah pernyataannya yang sangat keras, di mana ia mengklaim mampu melumpuhkan Iran—termasuk target sipil—dalam waktu singkat.
Penundaan tersebut tidak diberikan tanpa syarat. Trump menegaskan bahwa Iran harus segera membuka kembali Selat Hormuz secara penuh, aman, dan tanpa hambatan.
Ia memperingatkan bahwa jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, opsi serangan militer dapat kembali diaktifkan kapan saja.
Keputusan ini disampaikan langsung oleh Trump melalui platform media sosial miliknya. Sebelumnya, ia sempat mengeluarkan ancaman keras terkait potensi kehancuran besar apabila Iran tidak mematuhi tuntutan Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya, Trump juga menyoroti keterlibatan Pakistan sebagai pihak yang membantu meredakan situasi. Ia menyebut telah menerima permintaan dari Perdana Menteri Shehbaz Sharif serta pejabat militer senior, Asim Munir, untuk menahan rencana serangan.
Trump menyatakan bahwa keputusan penangguhan diambil setelah komunikasi tersebut, dengan tetap menekankan syarat pembukaan Selat Hormuz.
"Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir… dan dengan syarat Iran membuka Selat Hormuz secara penuh, segera, dan aman, saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” tulis Trump, dikutip dari Al-Jazeera, Rabu 8 April 2026.
Langkah ini mencerminkan adanya upaya diplomasi di tengah situasi yang sangat tegang. Meski demikian, penangguhan yang bersifat sementara dan bersyarat menunjukkan bahwa risiko eskalasi konflik masih tinggi.
Hingga kini, belum ada respons resmi dari pihak Iran terkait tuntutan tersebut. Dunia internasional pun terus memantau perkembangan situasi, mengingat potensi dampaknya terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan jalur perdagangan global.
BERITA TERKAIT: