Dalam keterangan tertulis GeÂdung Putih yang dikirimkan melalui Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, kemarin, kesimpulan Amerika itu diamÂbil berdasarkan pada gambaran gejala-gejala yang dialami para korban, rekaman video, dan gamÂbar-gambar yang memperlihatkan serangan senjata kimia tersebut.
Gedung Putih mengatakan, sebuah badan informasi yang berpengaruh menyebut rezim Suriah menggunakan klorin unÂtuk membom Douma. Beberapa sumber informasi lain menyebut rezim juga menggunakan racun sarin. Rezim Suriah memiÂliki sebuah sejarah penggunaan senjata kimia, bahkan setelah pemerintah Suriah itu berjanji akan menghentikan program senjata kimianya.
Keterangan Gedung Putih itu bertolak belakang dengan inforÂmasi yang disampaikan anggota Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk PenyelidiÂkan Independen Internasional untuk Suriah, Carla del Ponte. Dia mengungkapkan, kelomÂpok pemberontak anti-Presiden Suriah Bashar al Assad yang menembakkan senjata kimia berupa gas saraf sarin.
Temuan Ponte berdasarkan keterangan para korban serangan senjata kimia yang bersaksi bahwa kelompok pemberontak anti-Assad yang menebarkan gas mematikan itu, bukan pasukan pemerintah Suriah, seperti tudingan Amerika dan sekutunya.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menilai tudingan AS tidak berdasar. "Saya dapat menjamin bahwa Rusia tidak merusak lokasi itu (serangan 7 April). Anda mengutip para pemimpin Prancis, Inggris, dan AS. Sejujurnya, semua bukti yang mereka kutip berdasarkan pada laporan media dan di media sosial," ucap Lavrov. ***
BERITA TERKAIT: