Pemerintah Indonesia, leÂwat Kementerian Luar Negeri, menyayangkan langkah pasukan gabungan AS, Inggris dan PranÂcis dalam serangan rudal berÂsama ke sejumlah sasaran militer di Suriah pada Sabtu (14/4).
"Indonesia sangat prihatin dengan perkembangan yang terjadi di Suriah," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri, Sabtu pagi (14/4).
"Indonesia mengimbau agar semua pihak menahan diri dan mencegah terjadinya eskalasi memburuknya situasi di Suriah," imbuh pernyataan itu.
Menurut pengamat internaÂsional yang juga Guru Besar HI Universitas Indonesia HikmaÂhanto Juwana, Indonesia perlu bersikap tegas dan berani menÂkritik langkah AS dan kawan-kawan.
"Karena tidak ada mandat dari Dewan Keamanan PBB, tindaÂkan ini harus disikapi dengan tegas. Indonesia harusnya beraÂni," ujar Hikmahanto, kemarin. Dia khawatir serangan tersebut memicu perang terbuka.
Terpisah, Bagu Yon Mahmudi, pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia mengataÂkan, serangan AS dan sekutunya hanya akan menambah kekaÂcauan di kawasan.
"Serangan mereka tidak memÂbantu meredam konflik. Mereka hanya menambah masalah. SeÂrangan ini hanya akan kembali mengorbankan warga Suriah," tegas Yon.
Rusia, sekutu Suriah, meÂnyayangkan serangan koalisi Barat di saat pemerintahan PresiÂden Bashar al-Assad sedang berjuang menuju masa depan yang damai.
Serangan koalisi Barat dilaporÂkan menyasar beberapa pusat penelitian, instalasi dan gudang penyimpanan perangkat militer.
Imbauan Ke WNI
Kementerian Luar Negeri Indonesia mengimbau warga negara Indonesia untuk tidak melakukan perjalanan ke SuÂriah hingga situasi keamanan membaik.
WNI yang sedang berada di Suriah juga diminta segera meÂlaporkan diri ke KBRI di DamÂaskus, dan mengikuti perkemÂbangan situasi melalui aplikasi "Safe Travel."
Hotline KBRI di Damaskus adalah +963 95-4444-810. SeÂmentara hotline Perlindungan WNI di Kemlu RI adalah +62 812-9007-0027. ***
BERITA TERKAIT: