Hal itu diungkap dalam sebuah laporan baru oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang berbasis di Paris. Dalam laporan tersebut ditemukan bahwa satu dari tujuh pekerja rata-rata di 32 negara yang diteliti kurang mendapat bantuan daripada mereka yang pekerjaannya lebih aman.
OECD mengatakan 14% pekerjaan di negara-negara maju sangat bisa diotomatisasi, sementara 32% pekerjaan lainnya kemungkinan akan mengalami perubahan signifikan terhadap cara mereka dilaksanakan.
"Ada perbedaan yang signifikan di seluruh negara, 33% dari semua pekerjaan di Slowakia sangat
automatable, sementara hanya 6 % pekerjaan di Norwegia yang bisa diotomatisasi," begitu bunyi laporan tersebut seperti dimuat
The Guardian.
"Secara umum, pekerjaan di Anglo-Saxon, negara-negara Nordik dan Belanda kurang bisa dijaga daripada pekerjaan di negara-negara Eropa Timur, negara-negara Eropa Selatan, Jerman, Chili, dan Jepang," tambah laporan yang sama.
Inggris diidentifikasi oleh OECD sebagai salah satu negara yang paling sedikit terpengaruh oleh otomatisasi, tetapi meskipun demikian, kelompok thinktank tersebut mengatakan satu dari sepuluh pekerjaan beresiko tinggi dan satu dari empat orang bisa mengalami perubahan signifikan.
Otomatisasi kemungkinan besar mempengaruhi pekerjaan di industri manufaktur dan pertanian, meskipun sejumlah sektor jasa, seperti layanan pos dan kurir, transportasi darat dan layanan makanan juga sangat rentan.
Menurut laporan yang sama, orang-orang berketerampilan rendah dan remaja termasuk yang paling berisiko, dengan pekerjaan berisiko tinggi cenderung berada di sektor keterampilan rendah seperti persiapan makanan, pembersihan dan tenaga kerja.
OECD menggarisbawahi kebutuhan untuk membantu kaum muda memperoleh pengalaman kerja sambil belajar, dan menyoroti pentingnya pelatihan ulang dan perlindungan sosial bagi mereka yang berisiko melihat pekerjaan mereka direstrukturisasi.
[mel]
BERITA TERKAIT: