Data itu merinci soal kemampuan badan untuk melakukan peretasan pada bank-bank internasional, termasuk jaringan SWIFT, melalui Windows PC dan server yang digunakan untuk transfer keuangan global.
Rilis terbaru kelompok ini dijuluki ‘Lost in Translation'. Dalam rilis disebutkan sejumlah nama Bank seperti Qatar First Investment Bank, Dubai Gold and Commodities Exchange dan Tadhamon International Islamic Bank sebagai yang diduga dikompromikan.
Dengan kemampuan meretas tersebut, seperti dimuat
BBC, AS akan mungkin bisa secara diam-diam memantau transaksi keuangan.
Menanggapi laporan ini, Swift, yang berkantor pusat di Belgia, mengatakan, "Kami tidak memiliki bukti yang menunjukkan bahwa ada yang pernah melakukan akses yang tidak sah ke jaringan atau pesan layanan kami."
Swift sendiri merupakan jaringan yang memungkinkan bank-bank global untuk memindahkan uang di seluruh dunia.
Pada jaringan Swift, bank-bank kecil sering menggunakan biro jasa untuk menangani transaksi atas nama mereka. Dokumen termasuk dalam kebocoran menyarankan setidaknya satu biro utama, EastNets, mungkin telah dikompromikan. [mel]
BERITA TERKAIT: