Begitu kata laporan bersama yang dirilis oleh kelompok 21 badan bantuan internasional seperti dimuat
BBC (Kamis, 12/3).
Mereka menyebut, tahun 2014 lalu menjadi tahun terburuk bagi para warga sipil Suriah masih harus hidup dalam keadaan konflik. Pasalnya, pada tahun tersebut, ada sekitar 76 ribu warga Suriah yang tewas akibat konflik.
Selain itu, akses bantuan juga dinilai belum mendapat perbaikan yang signifikan. Pasalnya ada sekitar 4.8 juta warga sipil masih terjebak di daerah konflik yang sulit dijangkau. Jumlah itu meningkat lebih dari satu juta jiwa bila dibandingkan dengan tahun 2013.
Laporan yang sama juga menyebut bahwa pada tahun lalu, kebutuhan bantuan bagi warga sipil Suriah mengalami peningkatan. Ada sekitar 5.6 juta warga sipil Suriah yang memerlukan bantuan. Jumlah itu naik sekitar 31 persen sejak tahun 2013.
Di sisi lain, tanggapan kemanusian justru mengalami penurunan dan timpang dengan kebutuhan. Pada tahun 2013, bantuan yang datang untuk mendukung warga sipil Suriah adalah sekitar 71 persen dari dana yang dibutuhkan. Namun jumlah tersebut menurun pada tahun 2014 menjadi 57 persen.
Dari data-data masalah krisis kemanusiaan Suriah itu, tiga resolusi Dewan Keamanan PBB yang disahkan tahun lalu untuk mengakhiri serangan terhadap warga sipil, peningkatan bantuan, dan memungkinkan PBB untuk beroperasi di Suriah tanpa izin dari Damaskus, dinilai tidak bekerja dengan efektif.
Secara terpisah, sebuah laporan PBB yang didukung oleh Pusat Penelitian Kebijakan Suriah menyebut bahwa konflik empat tahun di Suriah selain telah menyebabkan disintegrasi ekonomi dan fragmentasi sosial juga telah memaksa sekitar 10 juta orang untuk meninggalkan rumah mereka.
[mel]
BERITA TERKAIT: