Para pengungsi yang berupaya menyelamatkan diri dari konflik di tanah airnya sejauh ini banyak melarikan diri ke negara-negara tetangga.
"Sekitar 3,8 juta pengungsi dari Suriah berada di lima negara utama di kawasan ini: Turki, Lebanon, Yordania, Irak, dan Mesir," kata Kelompok hak asasi yang berbasis di London, Amnesty International dalam sebuah pernyataan pada Jumat (5/12).
Amensty International menyayangkan kurangnya perhatian dari negara-negara kaya seperti Rusia, Tiongkok, serta negara-negara di Teluk Arab atas nasib para pengungsi Suriah. Mereka tidak menawarkan tempat pemukiman bagi para pengungsi Suriah.
Uni Eropa secara keseluruhan, kecuali Jerman, sebenarnya telah berjani untuk membantu para pengungsi Suriah. Namun mereka hanya berjanji untuk membantu sekitar 0,17 persen pengungsi yang tinggal di perbatasan Suriah.
"Tidak adanya janji pemberian pemukiman dari negara-negara Teluk sangat memalukan. ikatan linguistik dan agama semestinya menempatkan negara-negara Teluk di garis terdepan yang menawarkan tempat penampungan," kata kepala Amnesty Internasional yang menangani pengungsi dna hak-hak migran, Sherif Elsayed-Ali.
Karena itulah Amnesty Internasional menyerukan pentingnya pemberian batuan pemukiman bagi lima persen pengungsi Suriah pada akhir tahun ini dan lima persen lagi pada tahun depan.
Rencana itu sekaligus dapat mengamodir sekitar 380 ribu pengungsi yang tercatat oleh PBB sebagai pengungsi yang rentan termasuk anak-anak dan korban penyiksaan.
"Mereka yang memiliki kemampuan ekonomi untuk melakukannya harus memainkan peran yang lebih besar," tandasnya seperti dikabarkan
Al Jazeera.
[mel]
BERITA TERKAIT: