Direktur Jenderal Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Irina Bokova memperingatkan bahwa pasca konflik, ancaman penggalian arkeologi, warisan budaya, dan situs bersejarah secara ilegal di Suriah masih ada. Karena itu, UNESCO mengimbau semua rumah lelang dan museum di dunia agar berhati-hati dalam menerima barang antik dan artefak kuno.
"Bahaya terbesar ada di sana, selain dari kehancuran yang telah kita lihat dari situs warisan dunia adalah penggalian arkeologi gelap. Ini adalah sesuatu yang tidak terlalu diperhatikan masyarakat internasional," kata Bokova ketika berbicara dalam acara tentang perlindungan jurnalis yang juga membahas masalah Suriah di markas besar PBB di New York pada Jumat (13/12) seperti dikutip
Russia Today (Sabtu, 14/12).
Lebih lanjut, Irina Bokova menyebut bahwa UNESCO telah mengangkat isu penggalian ilegal situs warisan budaya di Suriah pada mediator perdamaian PBB untuk Suriah, Lakhdar Brahimi dan Ketua Liga Arab Nabil Elaraby.
"Kami menunjukkan peta situs-situs terlarang dan tempat terjadinya penggalian (ilegal). Ini adalah kekhawatiran terbesar kami saat ini, kita tidak tahu apa yang terjadi di sana, perdagangan dan ekspor gelap artefak kuno," jelasnya.
Namun Bokova tidak menyebutkan lebih lanjut di mana penggalian ilegal telah terjadi. Ia juga tidak menyebut siapa pihak yang telah melakukan penggalian ilegal tersebut.
"Siapa saja bisa melakukannya," katanya.
Pada bulan September 2013, UNESCO telah merilis daftar merah mengenai jenis artefak Suriah yang harus diperhatikan oleh para kolektor dan museum, karena diambil secara ilegal. Diantara daftar merah tersebut terdapat patung, batu prasasti, dan koin. Ia menyebut bahwa sebagian dari jenis artefal yang berada dalam daftar merah tersebut telah ditemukan berada di Yordania.
[ian]
BERITA TERKAIT: