
Misteri kematian pemimpin besar Palestina, Yasser Arafat, sembilan tahun lalu semakin gelap karena dokter RS Militer Percy Paris, Perancis, tempatnya terakhir dirawat sampai menghembuskan nafas terakhir, tidak melakukan otopsi ataupun memberikan laporan mengenai penyabab kematian Arafat.
Hal tersebut memicu spekulasi mengenai kematian Arafat. Hingga penelitian mengenai penyebab kematian baru dilakukan beberapa tahun belakangan dan memberikan fakta baru temuan zat radioaktif polonium-210 di jasad Arafat dengan kadar sekurang-kurangnya 18 kali lebih tinggi dari kadar normal.
Dari beberapa sumber diketahui bahwa polonium adalah zat kimia lembut berbentuk logam berwarna abu-abu keperakan yang ditemukan dalam bijih uranium. Isotop polonium-210 memancarkan partikel alpha radioaktif tinggi, tapi tak bisa beterbangan dengan bebas di udara.
Karena itulah, polonium-210 tidak menimbulkan risiko kesehatan pada manusia selama zat tersebut tetap berada di luar tubuh. Tapi dosis 0,1 microgramme (ukuran berat setitik debu) polonium-210 akan berakibat fatal jika itu tertelan bersama makanan ataupun cairan, atau terhirup di udara yang terkontaminasi.
Polonium-210 merupakan salah satu zat awal pembentuk senjata nuklir dan juga digunakan sebagai sumber listrik untuk satelit dan pesawat ruang angkasa. Polonium-210 adalah zat yang sangat langka. Salah satu negara yang membuatnya adalah Rusia yang hanya memproduksi sekitar 100 gram polonium-210 setiap tahunnya. Karena itulah, zat Polonium-210 sangat sulit didapatkan tanpa bantuan pemerintah atau tanpa adanya akses ke reaktor nuklir.
[ald]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: