"Kerusuhan politik, yang meningkat sebelum referendum konstitusi pada Desember 2012 dan saat peringatan Revolusi Mesir pada 25 Juni kemarin, kemungkinan akan terus berlanjut, di mana demontrasi lanjutan akan difokuskan pada peringatan tahun pertama Presiden Mursi berkuasa pada 30 Juni," kata peringatan itu, seperti dikutip al Jazeera (Sabtu, 29/6).
Demontrasi, lanjut peringatan itu, telah berubah menjadi kekerasan. Bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa telah mengakibatkan kematian, cedera dan kerusakan, termasuk tewasnya seorang warga AS di Alexandria.
"Pengunjuk rasa melemparkan batu dan bom molotov di mana pasukan keamanan membalas dengan menggunakan gas air mata. Selain itu, ada beberapa laporan yang menyebutkan penggunaan senjata api," lanjut peringatan itu.
Peringatan ini, diakui pihak AS, ditujukan untuk mengurangi kehadiran warga negaranya di negeri Piramida itu, yang akan memungkinkan beberapa staf dan keluarga personil Kedutaan Besar Amerika di Ibu Kota Kairo untuk meninggalkan Mesir hingga kondisi membaik.
AS tentu tidak akan mengulang kejadian tewasnya dubes mereka, Christopher Stevens, yang menjadi korban unjuk rasa di Libya, September lalu.
Setidaknya ada enam warga Mesir tewas dalam bentrokan saat unjuk rasa pada pekan lalu yang meletup di seantero Mesir untuk menuntut Mursi lengser. Massa dari kelompok penentang Mursi berjalan menuju Alun-alun Tahrir, sambil membentangkan bendera dan meneriakkan agar presiden yang diusung dari Ikhwanul Muslimin itu segera mundur.
[ian]
BERITA TERKAIT: