"Hingga perdamaian tercipta di Rakhine (Myanmar), kami akan terus mendesak otoritas di Dhaka (Bangladesh) untuk tidak menolak bantuan yang datang bagi warga (Rohingya) yang kini hidup dalam ancaman," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis, sebagaimana dikutip
The News (Sabtu, 4/8).
Sebelumnya Pemerintah Bangladesh memerintahkan tiga lembaga internasional yang berada di Cox Bazaar, perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar, untuk menarik bantuannya bagi pengungsi etnis Rohingya. Pemerintah Bangladesh menganggap lembaga-lembaga amal ini telah memicu penambahan jumlah pengungsi Rohingya yang masuk ke wilayah perbatasan.
Dua dari tiga lembaga itu berasal dari Perancis yakni, Doctor Without Borders (Medecins sans Frontieres) dan Action Against Hunger. Lembaga-lembaga ini sudah memberikan bantuan kesehatan, pelatihan serta memberikan bantuan pelatihan kepada para pengungsi yang hidup di Cox Bazaar sejak awal 1990. MSF bahkan telah mengoperasikan klinik yang mampu menampung 100 ribu pengungsi.
Sedikitnya sebanyak 300 ribu muslim Rohingya saat ini hidup di wilayah Bangladesh yang sebagian besar dari mereka dipusatkan di Cox Bazaar. Etnis Rohingya melarikan diri dari negaranya, Myanmar, setelah terjadi sejumlah pembantaian yang dilakukan pemerintah Myanmar di Rakhine.[ian]
BERITA TERKAIT: