Yomna Khallaf mengatakan tas olahraganya memiliki logo Nike yang besar di depan, tetapi ritsleting atau kancing tariknya bermerek Adidas.
Sebagaimana dikutip
BBC (Minggu, 27/7), dalam kicauannya di akun jejaring sosial Twitter, Khallaf mrengaku harus mengeluarkan uang sendiri sebesar 195 Euro untuk membeli perlengkapan olahraga yang lebih memuaskan.
Pihak Nike mengaku prihatin atas insiden ini karena atlet mungkin menerima produk yang tidak memenuhi standar kualitas perusahaan.
Namun demikian, Juru bicara Nike mengatakan mereka telah menyadari alasan mengapa EOC menunjuk sebuah penjual perlengkapan olahraga yang menyediakan sepatu dan pakaian palsu dengan memakai logo Nike. Hal ini tak lain karena alasan keterbatasan dana.
Tetapi ketua Komite Olimpiade Mesir, Jenderal Mahmoud Ahmed Ali, membela keputusan untuk tetap memakai perlengkapan palsu dengan alasan anggaran negara yang terbatas.
"Kami menandatangani kontrak dengan sebuah distributor asal Cina dalam kondisi ekonomi Mesir yang sulit,'' kata Mahmoud Ahmed Ali.
Insiden ini menyebabkan kontroversi di sosial media yang oleh kebanyakan orang digambarkan sebagai sebuah peristiwa yang memalukan.
[ian]
BERITA TERKAIT: