Militer Bombardir Damaskus, Pemberontak Terdesak

Senin, 23 Juli 2012, 09:43 WIB
Militer Bombardir Damaskus, Pemberontak Terdesak
ilustrasi, militer suriah

rmol news logo Pertempuran antara militer dan pemberontak makin tak terbendung. Pemerintah telah menurunkan helikopter tempur di ibukota Suriah, Damaskus, ke­marin. Ini adalah pertama kalinya terjadi pertempuran sengit di Damaskus.

Kubu oposisi yang terkepung di Barzeh, terdesak atas serangan militer. Banyak orang terluka. Pasukan pemerintah di pinggiran distrik Mezzeh juga telah mem­buat pemberontak menarik diri.

Pertempuran juga masih m­e­landa Aleppo, kemarin. Padahal, di kota ini sebelumnya sangat jarang sekali terjadi kekerasan dan ben­trokan dari pihak mana pun. Mak­lum, seperti Damaskus, Aleppo merupakan pusat ke­kuatan rezim Presiden Bashar al-Assad.  Insiden di Aleppo yang berlangsung sejak Jumat (20/7) telah menewaskan 25 orang, Sabtu (19/7).

Kemarin, menurut juru bicara pemberontak Kolonel Abdul-Jabbar Mohammed Aqidi, pa­su­kan telah diterjunkan  untuk mem­bebaskan kota dari tangan rezim.

Setelah ledakan besar di Biro Keamanan Suriah, Damaskus, betrokan diperkirakan akan terus berlanjut dan kian memburuk. Pemerintah memerintahkan war­ga untuk mengungsi. Kemarin, wilayah semi-otonomi Kurdi Irak menerima hingga 9.000 pe­ngungsi Suriah.

“Kamp-kamp, yang disiapkan untuk pengungsi Suriah yang melintasi perbatasan (Suriah-Kurdistan), terus mengalami peningkatan jumlah pengungsi dan sampai hari ini kami telah menerima 9.000 dari mereka,” kata Mohammed Abdullah, ke­pala direktorat Imigrasi dan imi­gran Provinsi Duhuk Kurdistan kepada wartawan.

Pemerintah daerah Kurdi be­kerja sama dengan organisasi kema­nusiaan internasional dan beberapa organisasi kemanusiaan lokal yang menawarkan berbagai bantuan kepada para pengungsi, yang se­bagian besar datang dari kota-kota Kurdi Suriah yang berdekatan de­ngan wilayah Kur­distan Irak.

Sebelumnya,  Dewan Ke­a­ma­nan (DK) PBB dengan suara bulat memutuskan untuk mem­per­ta­han­kan misi pemantauan di Suriah sampai 30 hari. Namun anggota sepakat agar misi itu dapat di­per­panjang jika peng­gunaan senjata berat dan per­tem­puran mereda.

Namun, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengaku kecewa dengan kinerja DK PBB. “Indonesia sangat prihatin de­ngan pernyataan bahwa sekali lagi, sekali lagi, DK PBB gagal untuk melaksanakan apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya, yaitu memelihara per­damaian dan keamanan inter­nasional,” ujar Natalegawa.

Indonesia saat ini sedang be­ru­saha agar masyarakat inter­na­si­onal dapat menciptakan per­da­maian di Suriah. Tentunya, me­nurut Natalegawa, itu ditun­juk­kan dengan berbagai upaya yang lebih serius dan sungguh-sung­guh dari masyarakat internasional untuk segera menciptakan per­damaian di Suriah.

Natalegawa juga menyinggung perihal pemulangan warga negara Indonesia (WNI) yang ada di Suriah. Sebanyak 403 WNI yang terbagi menjadi 17 kloter telah kembali. Masih ada sekitar 18 kloter yang tiba Sabtu (21/7). Dia juga menambahkan, banyak WNI yang ditampung di KBRI.  [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA