"Kami (AS) mempersiapkan semua opsi bila kami memang harus merespons Iran. Bila memang Iran tetap tidak menyerah dalam program nuklirnya, kami akan menyiapkan strategi berikutnya," ujar Panetta, seperti dikutip
Russia Today, Sabtu (21/4).
AS tengah mengerahkan dua kapal induk dan beberapa kapal perang serta kapal selam di perairan Teluk Persia. Pemerintah AS mengklaim bahwa pengerahan armada tempur tersebut merupakan bagian dari operasi pengamanan rutin yang dilakukan AS di Teluk.
Kapal induk USS Enterprise dipersenjatai oleh 130 misil Tomahawk sementara itu USS Lincoln juga memiliki banyak misil jarak jauh. Sementara itu, USS Georgia diperkirakan membawa 154 misil Tomahawk dan kapal itu pun saat ini tengah berlayar di Laut Arab.
Menurut para pengamat, sedikitnya ada 430 misil Tomahawk yang dibawa oleh kapal tempur AS. Misil-misil Tomahawk itu memiliki daya jelajah sejauh 1.700 km dalam menjangkau target. Dengan daya jelajah yang sangat luas tersebut dapat dipastikan bahwa rudal ini sanggup menghancurkan sistem pertahanan udara Iran.
Dalam mengatasi isu nuklir Iran, AS kembali menggunakan Double Standard, dimana di satu sisi, AS selalu menyarankan penggunaan diplomasi dan sanksi ekonomi untuk menggagalkan nuklir Iran. Namun disisi lain, AS juga terlihat mengerahkan pasukannya di wilayah yang berdekatan dengan Negeri Mullah tersebut.
Hingga saat ini, Iran tetap menampik tuduhan Barat terkait isu pembangunan senjata nuklir. Iran menjelaskan berulang kali bahwa nuklirnya digunakan untuk kepentingan yang damai, yakni sebagai pembangkit listrik dan untuk terapi radioaktif bagi para penyidap kanker. Terakhir Iran menjelaskan tujuan pengayaan nuklirnya saat dengan menemui negara P5+1 di Istanbul, Turki.
[ian]
BERITA TERKAIT: