Dalam sebuah pernyataan yang dibacakan oleh juru bicara PBB Martin Nesirky, Ban Ki Moon mengatakan bahwa dirinya mengutuk keras segala bentuk kekerasan terbaru yang terjadi di Suriah. Ia juga menyesalkan sikap pemerintah Suriah yang tidak menjaga komitmen untuk menghentikan segala bentuk penggunaan senjata berat di pusat-pusat pemukiman warga sipil.
"Ban menyesalkan serangan yang dilakukan oleh pihak berwenang Suriah terhadap warga sipil tak berdosa, termasuk perempuan dan anak-anak, padahal ada komitmen dari Pemerintah Suriah untuk menghentikan seluruh penggunaan senjata berat di pusat-pusat," ujar pernyataan Ban sebagaimana dikutip
Reuters (Sabtu, 7/4).
Lebih lanjut, Ban menuduh Presiden Bashar al Assad secara sengaja memanfaatkan tenggat waktu 10 April, yang diberikan oleh Dewan Keamanan PBB, yang seharusnya digunakan untuk menarik tentara dan senjata berat dari berbagai kota besar di Suriah, justru digunakannya sebagai dalih untuk meningkatkan pembunuhan.
"Tenggat waktu 10 April adalah untuk memenuhi pelaksanaan komitmen pemerintah, sebagaimana disahkan Dewan Keamanan, bukan alasan bagi berlanjutnya pembunuhan," tambah Ban.
Sebelumnya pada Selasa (3/4), Dewan Keamanan PBB telah mensahkan suatu pernyataan yang mendukung rencana perdamaian gagasan Kofi Annan. Pernyataan yang juga mendapat dukungan dari Rusia dan China itu, secara resmi memberikan batas waktu hingga 10 April bagi Pemerintah Suriah untuk menarik tentara dan senjata dari berbagai kota besar.
Namun pegiat hak asasi manusia mengatakan sejak pernyataan baru itu disahkan, sedikitnya 35 orang tewas dalam serangan pemerintah yang dilancarkan pada hari Jumat. Serangan serupa yang dilancarkan Rezim Assad pada hari Kamis juga telah menewaskan 77 warga sipil.
[ian]
BERITA TERKAIT: