Pada Desember 1998, saya sekeluarga pindah ke Jerman, kampung halaman suami karena tugas suami di Indonesia sudah selesai. Kami tinggal di kota Aachen yang dikenal sebagai kota pelajar dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia.
Masyarakat Muslim IndoÂnesia yang ada di Aachen dan sekitarÂnya berjumlah sekitar 70 orang. Total masyarakat IndoÂnesia yang berÂdoÂmisili di Aachen dan seÂkitarnya berjumlah sekitar 200 orang. Kami sebetulnya tidak tinggal tepat di kota Aachen, tapi di HerÂzogenrath, kota kecil baÂgian AaÂchen yang jaraknya 6 km.
Di Jerman atau Eropa pada umumnya tidak ada yang namaÂnya Lebaran. Tidak ada suara geÂma takÂbiran yang terdeÂngar dari masjid, karena ada laÂrangan dari pemeÂrintah Jerman. Kalau mau menÂdengarkan takbiran di malam Idul Fitri biasanya saya lihat YouÂÂtube atau memutar kaset takÂÂbiran yang saya beli di Indonesia.
Orang-orang Arab dan Turki di Jerman, menyeÂbut Lebaran Zucker Fest (pesta gula). ArÂtinya, di hari itu orang-orang Arab dan Turki boleh memakan manisan sesukanya.
Berhubung di Aachen hanya ada satu masjid, Bilal Moschee, shalat Id dibagi dua. Tahap perÂtama, shalat Id dimulai pukul 09.00-10.00 (di musim dingin), khutÂbahnya dalam bahasa Arab. BaÂgian kedua, shalat Id dimulai sekitar pukul 10.00-11.00 (di muÂsim dingin) dan khutbahnya daÂlam baÂhasa Jerman. Bila Idul Fitri jatuh pada waktu musim panas, shalat Id dimulai pukul 08.00.
Pembagian shalat Id ini terasa lebih fleksibel. Pasalnya, tidak ada hari libur untuk Hari Raya. Jika Idul Fitri atau Idul Adha jatuh di hari kerja, untuk meÂlaksanaÂkan shalat Id umat Muslim dapat meÂminta izin kepada atasannya. SeÂtelah selesai, mereka harus kemÂbali bekerja seÂperti biasa.
Kebiasaan di Aachen, saat Idul Fitri kami mengadakan acara haÂlal bihalal di gedung, masjid atau di rumah. Untuk bagian konsumÂsi, kami selalu berbagi menu. Ibu-ibu biasaÂnya bertugas meÂmasak makanÂan pokok, seÂmenÂtara para mahaÂsiswa memÂbawa minuman dan lontong. PemÂbagian ini diraÂpatkan dengan Muslim Indonesia di Aachen (KIA).
Pengajian Tetap Jalan
Tahun ini, Ramadhan jatuh pada musim panas. Kebetulan, pada Agustus bertepatan dengan Sommerferien (liburan musim panas) jadi sekolah anak-anak libur. Kalau sedang sekolah, anak-anak belajar dari pukul 08:00 sampai 16:00. Ini akan melelahkan meÂreka. Anak-anak saya diÂsekolahkan di sekolah katolik wanita (Madchenschule) dan hanya mereka yang Muslim.
Bagi umat Muslim yang tingÂgal di kota Aachen, mereka meÂlaksanakan Shalat tarawih di masÂjid Bilal Moschee. Di masÂjid tertua di kota Aachen ini, hampir setiap hari disediakan makanan berbuka puasa gratis. Menunya berbeda-beda.
Bagi jamaah yang ingin meÂlakÂsanakan shalat maghÂrib samÂpai tarawih, mereka tidak haÂrus puÂlang ke rumah dulu, kaÂrena seÂmua kebutuhan sudah di seÂdiakan di mesjid. Di muÂsim panas, shalat tarawih selesai pukul 01.00.
Untuk mengisi ibadah di buÂlan puasa, kami selalu meÂngaÂdakan pengajian rutin setiap satu pekan sekali. KIA juga meÂngaÂdakan buka bersama di ruÂmah, masjid atau gedung. [rm]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: