Ikut Shalat Id, Khutbahnya Bahasa Arab & Jerman

Suasana Kekeluargaan Berpuasa & Berlebaran di Kota Aachen Jerman

Kamis, 01 September 2011, 01:36 WIB
Ikut Shalat Id, Khutbahnya Bahasa Arab & Jerman
ilustrasi/ist
RMOL.Tak ada adzan atau gema takbir. Begitulah suasana Ramadhan dan Idul Fitri di kota Aachen, Jerman, yang sepi. Untuk mengobati rasa rindu akan masakan tanah air, warga Indonesia yang tinggal di Aachen menggelar acara buka puasa bersama. Beraneka ragama masakan Indonesia dihidangkan untuk dinikmati bersama.

Pada Desember 1998, saya sekeluarga pindah ke Jerman, kampung halaman suami karena tugas suami di Indonesia sudah selesai. Kami tinggal di kota Aachen yang dikenal sebagai kota pelajar dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia.

Masyarakat Muslim Indo­nesia yang ada di Aachen dan sekitar­nya berjumlah sekitar 70 orang. Total masyarakat Indo­nesia yang ber­do­misili di Aachen dan se­kitarnya berjumlah sekitar 200 orang. Kami sebetulnya tidak tinggal tepat di kota Aachen, tapi di Her­zogenrath, kota kecil ba­gian Aa­chen yang jaraknya 6 km.

 Di Jerman  atau Eropa pada umumnya tidak ada yang nama­nya Lebaran. Tidak ada suara ge­ma tak­biran yang terde­ngar dari masjid, karena ada la­rangan dari peme­rintah Jerman. Kalau mau men­dengarkan takbiran di malam Idul Fitri biasanya saya lihat You­­tube atau memutar kaset tak­­biran yang saya beli di Indonesia.

Orang-orang Arab dan Turki di Jerman, menye­but Lebaran Zucker Fest (pesta gula). Ar­tinya, di hari itu orang-orang Arab dan Turki boleh memakan manisan sesukanya.

Berhubung di Aachen hanya ada satu masjid, Bilal Moschee, shalat Id dibagi dua. Tahap per­tama, shalat Id dimulai pukul 09.00-10.00 (di musim dingin), khut­bahnya dalam bahasa Arab. Ba­gian kedua, shalat Id dimulai sekitar pukul 10.00-11.00 (di mu­sim dingin) dan khutbahnya da­lam ba­hasa Jerman. Bila Idul Fitri jatuh pada waktu musim panas, shalat Id dimulai pukul 08.00.

Pembagian shalat Id ini terasa lebih fleksibel. Pasalnya, tidak ada hari libur untuk Hari Raya. Jika Idul Fitri atau Idul Adha jatuh di hari kerja, untuk me­laksana­kan shalat Id umat Muslim dapat me­minta izin kepada atasannya. Se­telah selesai, mereka harus kem­bali bekerja se­perti biasa.

Kebiasaan di Aachen, saat Idul Fitri kami mengadakan acara ha­lal bihalal di gedung, masjid atau di rumah. Untuk bagian konsum­si, kami selalu berbagi menu. Ibu-ibu biasa­nya bertugas me­masak makan­an pokok, se­men­tara para maha­siswa mem­bawa minuman dan lontong. Pem­bagian ini dira­patkan dengan Muslim Indonesia di Aachen (KIA).

Pengajian Tetap Jalan

Tahun ini, Ramadhan jatuh pada musim panas. Kebetulan, pada Agustus bertepatan  dengan Sommerferien (liburan musim panas) jadi sekolah anak-anak libur. Kalau sedang sekolah, anak-anak  belajar dari pukul 08:00 sampai 16:00. Ini akan melelahkan me­reka. Anak-anak saya di­sekolahkan di sekolah katolik wanita (Madchenschule) dan hanya mereka yang Muslim.

Bagi umat Muslim yang ting­gal di kota Aachen, mereka me­laksanakan Shalat tarawih di mas­jid  Bilal Moschee. Di mas­jid tertua di kota Aachen ini, hampir setiap hari disediakan makanan berbuka puasa gratis. Menunya berbeda-beda.

Bagi jamaah yang ingin me­lak­sanakan shalat magh­rib sam­pai tarawih, mereka tidak ha­rus pu­lang ke rumah dulu, ka­rena se­mua kebutuhan sudah di se­diakan di mesjid. Di mu­sim panas, shalat tarawih selesai pukul 01.00.

 Untuk mengisi ibadah di bu­lan puasa, kami selalu me­nga­dakan pengajian rutin setiap satu pekan sekali. KIA juga me­nga­dakan buka bersama di ru­mah, masjid  atau gedung. [rm]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA