DMAS Ketiban Cuan Data Center, Tapi Lahan Makin Tipis

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 08 September 2026, 10:31 WIB
DMAS Ketiban Cuan Data Center, Tapi Lahan Makin Tipis
Ilustrasi (Artificial Intelligence)
Kecil Besar
rmol news logo PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), pengelola kawasan Kota Deltamas, mencatat pra penjualan Rp1,15 triliun pada semester I 2026. Capaian tersebut setara 55 persen dari target marketing sales tahun ini sebesar Rp2,08 triliun.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS Tondy Suwanto mengatakan, sektor industri menjadi penopang utama penjualan, terutama dari meningkatnya permintaan lahan untuk data center.

“Capaian prapenjualan pada periode ini didominasi oleh sektor industri khususnya sektor data center. Permintaan lahan industri sebesar 85 hektare, 75 persen berasal dari sektor data center,” kata Tondy dalam Public Expose Live 2026, Senin 7 September 2026.

Tingginya permintaan tersebut membuat persediaan lahan industri DMAS menyusut signifikan. Dalam setahun, land bank industrial turun dari 119 hektare menjadi sekitar 60 hektare.

Menurut Tondy, laju penjualan lahan saat ini bahkan lebih cepat dibandingkan penambahan land bank. Perseroan tetap berupaya menambah cadangan lahan, tetapi ekspansi tidak akan dilakukan secara terburu-buru.

“Setiap tahun kita merencanakan untuk menambah land bank yang cukup signifikan, hanya saja memang tidak mudah, kita mengakui hal itu,” kata Tondy.

DMAS akan memprioritaskan penambahan lahan di sekitar Kota Deltamas agar dapat memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia. Pengembangan kawasan baru di luar area tersebut dinilai membutuhkan modal lebih besar untuk membangun jaringan listrik, air, internet, hingga pengolahan limbah.

“Kalau misalkan kita menambah land bank di sekitar kawasan Delta Mas, itu lebih memudahkan untuk menyambung infrastruktur yang ada, lebih mudah dan lebih murah sebenarnya,” imbuh Tondy.

Saat ini, DMAS memiliki total land bank sekitar 581 hektare, terdiri dari 60 hektare untuk industri, 164 hektare residensial, dan 357 hektare komersial. Cadangan tersebut memberi perseroan fleksibilitas untuk mengubah peruntukan lahan sesuai perkembangan permintaan.

DMAS melihat prospek kawasan industri masih positif hingga 2027, terutama didorong permintaan dari sektor data center dan otomotif. Bahkan, pelemahan Rupiah dinilai dapat menjadi daya tarik bagi investor asing karena membuat biaya investasi di Indonesia relatif lebih murah dalam denominasi Dolar AS.

“Melemahnya rupiah bagi investor asing malah menjadi lebih murah. Jadi kami melihat bahwa outlook untuk kawasan industri sangat prospektif dan optimistis,” ujarnya.

Dengan permintaan yang masih kuat, terutama dari data center, DMAS membuka peluang menaikkan target marketing sales. Hingga semester I 2026, perusahaan telah merealisasikan Rp1,15 triliun atau 55 persen dari target tahunan.

“Kami melihat sektor data center masih sangat prospektif,” paparnya. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA