Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah, salah satu pusat produksi dan perdagangan energi terbesar dunia.
Harga minyak mentah Brent berjangka ditutup naik 1,03 Dolar AS atau 1,1 persen menjadi 97,31 Dolar AS per barel. Brent sempat menyentuh 98,06 Dolar AS per barel, level tertinggi sejak 24 Juli 2026.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,17 Dolar AS atau 1,3 persen menjadi 92,65 Dolar AS per barel. WTI sempat mencapai 93,29 Dolar AS per barel, yang juga merupakan level tertinggi sejak 24 Juli.
Kenaikan harga terjadi setelah Iran memperingatkan akan menargetkan infrastruktur energi di kawasan Teluk jika AS kembali menyerang aset-asetnya. Ancaman tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global.
"Serang aset kami dan Anda akan diserang," kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf pada Senin, merespons pernyataan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengenai armada minyak Iran.
Ketegangan meningkat setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan terhadap kapal tanker minyak dan kapal perang selama akhir pekan. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan terhadap lalu lintas kapal pengangkut energi, terutama melalui Selat Hormuz.
Data perusahaan analitik Kpler menunjukkan rata-rata hanya sekitar 10 kapal komoditas per hari yang melintasi Selat Hormuz dalam 10 hari terakhir. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Mei.
Kekhawatiran pasokan juga meningkat setelah serangan Israel di Lebanon selatan. Di Arab Saudi, kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco dilaporkan turut diserang pada Senin, meski tingkat kerusakannya masih dalam penilaian.
Lonjakan harga minyak telah berlangsung sejak pekan lalu. Brent naik sekitar 8 persen, sedangkan WTI melonjak hampir 10 persen setelah serangkaian serangan AS dan Iran kembali meningkatkan ketegangan di kawasan.
Jika serangan terhadap kapal pengangkut minyak terus berlanjut, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga 120 Dolar AS per barel. Negara-negara konsumen minyak pun berpotensi meningkatkan penggunaan cadangan strategis untuk mengantisipasi kekurangan pasokan.
Di tengah meningkatnya risiko tersebut, OPEC+ pada Minggu mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober. Kelompok produsen minyak itu masih perlu menyepakati kuota baru sebelum menentukan kebijakan produksi berikutnya.
BERITA TERKAIT: