Pada penutupan perdagangan Jumat 25 September 2026, minyak mentah Brent turun 2,28 Dolar AS atau 2,1 persen menjadi 104,32 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot 2,20 Dolar AS atau 2,3 persen menjadi 92,41 Dolar AS per barel.
Penurunan tersebut terjadi setelah muncul kabar bahwa negosiator AS dan Iran tengah menjajaki jalan keluar bertahap dari konflik. Salah satu poin yang menjadi perhatian pasar adalah kemungkinan Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak dunia.
Iran bahkan menawarkan pembukaan kembali jalur tersebut dalam waktu tujuh hari dengan sejumlah syarat, termasuk penghentian blokade angkatan laut AS, keringanan sanksi terhadap penjualan minyak Iran, serta gencatan senjata.
Namun, pasar belum sepenuhnya yakin kesepakatan dapat segera terwujud. Seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran tetap tidak akan memberikan kelonggaran terkait program nuklirnya meski Washington menerima proposal pembukaan kembali Selat Hormuz. Kondisi ini membuat risiko gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah masih menjadi perhatian.
Di sisi lain, ketegangan di kawasan juga belum mereda. Serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas dan infrastruktur energi Arab Saudi turut memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan dari salah satu produsen minyak utama dunia.
Data Kpler menunjukkan aliran minyak melalui Selat Hormuz mencapai 33,7 juta barel pada pekan yang dimulai 20 September, relatif sejalan dengan pekan sebelumnya. Selat tersebut merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak global sehingga setiap gangguan berpotensi memengaruhi harga energi.
Secara mingguan, Brent masih mencatat kenaikan kurang dari 1 persen, sedangkan WTI turun sekitar 8 persen. Dengan demikian, arah harga minyak pada awal pekan depan akan sangat bergantung pada perkembangan pembicaraan AS-Iran, kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz, serta potensi gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah.
BERITA TERKAIT: