Protokoler ketat yang biasanya menyelimuti Istana Negara seolah luruh, berganti dengan suasana hangat dan penuh keriuhan warga yang datang sejak pagi hingga malam hari.
Sejak pukul 07.00 hingga 22.00 WIB, ratusan ribu masyarakat bebas mengeksplorasi area pelataran Istana Merdeka. Tidak ada sekat pembatas yang menghalangi warga untuk sekadar bersantai di bawah rindangnya pepohonan kepresidenan maupun berfoto di area yang biasanya tertutup untuk publik. Bahkan, para personel Paspampres yang tadinya tampak sigap dalam upacara kenegaraan, terlihat berbaur dengan senyum ramah melayani antusiasme warga.
Selain menjadi ajang silaturahmi nasional, perayaan ini menjadi berkah nyata bagi ekonomi kerakyatan. Sebanyak 1.200 UMKM lokal dilibatkan untuk menyajikan ribuan porsi kuliner legendaris dan jajanan pasar secara gratis. Mulai dari Soto Mie, Es Krim Ragusa, hingga kudapan khas seperti kerak telor dan es teler tersedia melimpah bagi pengunjung.
Kebahagiaan ini turut dirasakan oleh Dyah Seraya, salah satu pemilik UMKM yang berkesempatan menjajakan produknya di area kepresidenan.
“Ya kami merasa bangga ya karena terpilih dari sekian banyak UMKM yang ada. Kita dapat pesanan 1.100, jadi 700 porsi untuk pagi, 400 porsi untuk penurunan sore,” ujar Dyah Seraya sebagai pelaku UMKM.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pemilihan UMKM ini dilakukan secara inklusif. Pemerintah merangkul berbagai lapisan pedagang, mulai dari yang berada di bawah naungan asosiasi resmi hingga pedagang binaan mandiri.
"Jadi semua makanan yang disajikan adalah makanan-makanan yang berasal dari UMKM," ungkap Prasetyo Hadi.
Keseruan pesta rakyat ini tidak berhenti di urusan perut saja. Hingga larut malam, area sekitar Istana dimeriahkan dengan berbagai wahana pasar malam, area bermain anak, serta parade kendaraan hias yang memanjakan mata.
Transformasi Istana Merdeka menjadi "Rumah Rakyat" dalam momentum HUT ke-81 RI ini menjadi simbol kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat. Perayaan kemerdekaan kali ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud nyata kebebasan yang merangkul dan menggerakkan ekonomi masyarakat luas.
BERITA TERKAIT: