Ketua Umum Asosiasi Panasbumi Indonesia (API/INAGA), Julfi Hadi menyampaikan bahwa penyelenggaraan IIGCE tahun ini membawa bobot sejarah yang sangat monumental bagi perjalanan energi nasional.
"Sejak 2013, IIGCE telah menjadi wadah gagas strategis. Namun IIGCE 2026 membawa bobot sejarah yang jauh lebih besar karena kita memperingati tepat 100 tahun atau satu abad sejak langkah pertama eksplorasi panas bumi dimulai di Indonesia," ujar Julfi dalam pidato pembukaannya.
Dengan mengusung tema
Energy Self-Sufficiency, Energy Independence, Julfi menegaskan peringatan satu abad ini harus dijadikan titik balik (
turning point) revolusioner demi mendukung visi Kementerian ESDM mencapai target "30.1", yakni menempatkan potensi geothermal Indonesia sebagai produsen nomor satu di dunia pada 2030.
"Kita harus mengubah warisan satu abad ini menjadi landasan pacu untuk lepas landas secara masif demi merealisasikan target 30.1," tegasnya.
IIGCE 2026 tercatat sebagai konferensi panas bumi terbesar di dunia yang diikuti lebih dari 10.000 peserta dari berbagai belahan benua, mulai dari Asia, Afrika, Eropa, Amerika, Timur Tengah, hingga Oceania.
"Mari kita satukan langkah dengan kolaborasi yang kuat dan inovasi tanpa henti. Bersama-sama kita capai target 30.1 dan kukuhkan Indonesia sebagai raksasa geothermal dunia," pungkas Julfi.
Tahun ini, gelaran tersebut dibuka langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Pembukaan IIGCE 2026 turut dihadiri Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman serta Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati.
Gelaran tahun ini juga menghadirkan area pameran teknologi dan pengembangan panas bumi seluas lebih dari 2.300 meter persegi yang dirancang interaktif untuk mendorong percepatan kerja sama bisnis (
business-to-business/B2B).
BERITA TERKAIT: